TARAKAN – Pelaksanaan Sensus Ekonomi (SE) 2026 dinilai memiliki tantangan yang jauh lebih besar dibandingkan Sensus Penduduk. Jika sensus penduduk relatif mudah diterima masyarakat karena berkaitan dengan pencatatan identitas setiap warga negara, sensus ekonomi justru menyentuh persoalan yang lebih sensitif, yakni aktivitas usaha hingga kondisi ekonomi rumah tangga.
Saat dikonfirmasi, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tarakan Umar Riyadi mengatakan, masyarakat sejak lama telah mengenal sensus penduduk dengan istilah "cacah jiwa". Karena itu, sebagian besar warga justru berharap dirinya tercatat sebagai bagian dari jumlah penduduk Indonesia.
"Kalau bicara sensus penduduk itu sejak semula memang sudah populer dengan istilah cacah jiwa. Jadi orang memang sangat peduli kalau dirinya tercatat dalam pendataan kami. Semua orang ingin menjadi bagian dari populasi Indonesia. Karena itu kalau sensus penduduk tantangannya tidak banyak," ujarnya kepada awak media, Selasa (21/7).
Namun kondisi tersebut berbeda saat BPS melaksanakan Sensus Ekonomi. Umar menjelaskan, pendataan usaha menyangkut informasi yang dianggap lebih pribadi sehingga sebagian masyarakat cenderung berhati-hati ketika dimintai keterangan oleh petugas sensus.
"Kalau sudah bicara sensus ekonomi, ini bicara dapur. Bicara dompet. Masyarakat pun merasa seperti mau diintip. Di situlah sisi psikologis masyarakat tersentuh," katanya.
Menurutnya, ketika petugas mulai menanyakan aktivitas ekonomi, secara naluriah masyarakat akan bersikap lebih defensif. Mereka akan mempertanyakan tujuan pendataan sebelum akhirnya bersedia memberikan informasi mengenai usaha yang dijalankan. Umar mengibaratkan proses pendataan tersebut seperti seseorang yang baru pertama kali berkunjung ke rumah orang lain.
Menurutnya, seorang tamu tentu tidak mungkin langsung menuju dapur tanpa membangun komunikasi terlebih dahulu. "Ada apa ini?' begitu biasanya yang muncul. Defense-nya langsung terasa. Itu wajar karena yang dibicarakan sudah menyangkut aktivitas ekonomi mereka. Kalau kita bertamu ke rumah orang, masa ujung-ujung langsung masuk ke dapur. Nah, seperti itulah bedanya sensus ekonomi dengan sensus penduduk," jelasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT