TARAKAN – Realisasi investasi di Kota Tarakan pada triwulan I 2026 mencapai Rp 387.113.530.982. Nilai tersebut berasal dari 164 perusahaan yang menanamkan modal di berbagai sektor usaha, dengan Penanaman Modal Asing (PMA) masih menjadi penyumbang terbesar dibandingkan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Tarakan, H. Sugeng, mengatakan investasi asing menyumbang Rp 284.312.885.224 atau sekitar 73 persen dari total realisasi investasi. Sementara PMDN tercatat sebesar Rp 102.800.645.758.
"Untuk realisasi investasi triwulan pertama ini, PMA jumlahnya Rp 284.312.885.224. Kemudian kalau untuk PMDN sebesar Rp 102.800.645.758. Jadi secara keseluruhan total realisasi investasi mencapai Rp 387.113.530.982," ujar Sugeng.
Ia menjelaskan, meski jumlah perusahaan PMDN jauh lebih banyak dibandingkan PMA, nilai investasi asing tetap lebih besar. Dari total 164 perusahaan yang melaporkan kegiatan investasinya, sebanyak 17 merupakan perusahaan PMA, sedangkan 147 lainnya merupakan PMDN.
Menurut Sugeng, kondisi tersebut dipengaruhi karakteristik investasi asing yang umumnya memiliki modal besar dan berorientasi pada proyek berskala besar. Sebaliknya, PMDN didominasi pelaku usaha dalam negeri, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sehingga nilai investasinya lebih kecil meski jumlah perusahaannya lebih banyak.
"Memang PMA lebih tinggi daripada PMDN. Angkanya besar karena nilai modalnya juga besar. Kalau PMDN biasanya banyak berasal dari UMKM maupun pelaku usaha dalam negeri. Jumlah perusahaan banyak, tetapi nilai investasinya tidak sebesar PMA," jelasnya.
Selain meningkatkan nilai investasi, kegiatan penanaman modal pada triwulan pertama juga berdampak terhadap penyerapan tenaga kerja. Data DPMPTSP menunjukkan sebanyak 248 tenaga kerja Indonesia (TKI) terserap, terdiri dari 70 orang pada perusahaan PMA dan 178 orang pada perusahaan PMDN.
"Untuk tenaga kerja asing pada triwulan pertama belum ada. Jadi seluruh tenaga kerja yang terserap merupakan tenaga kerja Indonesia," katanya.
Sugeng menambahkan seluruh pelaporan realisasi investasi dilakukan melalui sistem Online Single Submission (OSS). Menurutnya, sistem tersebut mempermudah perusahaan menyampaikan laporan sekaligus memudahkan pemerintah memantau perkembangan investasi secara berkala.
"Semua pelaporan melalui OSS. Sampai sekarang tidak ada kendala berarti. Petugas kami setiap hari siap mendampingi apabila ada pelaku usaha yang mengalami kesulitan dalam pelaporan," ujarnya.
DPMPTSP juga menargetkan sebanyak 400 perusahaan menyampaikan laporan kegiatan investasi sepanjang 2026. Hingga triwulan pertama, realisasi sudah mencapai 164 perusahaan atau sekitar 41 persen dari target tahunan.
Sugeng optimistis realisasi investasi akan meningkat pada semester kedua. Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, nilai investasi biasanya melonjak pada triwulan III dan IV seiring mulai berjalannya berbagai proyek investasi.
"Biasanya triwulan pertama masih awal, kemudian triwulan kedua mulai naik. Yang paling tinggi biasanya triwulan tiga dan empat karena banyak investasi yang sudah berjalan dan masuk laporannya," pungkasnya. (zar/jnr)
Editor : Januriansyah RT