0 Kaltara Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Tak Sekadar Ganggu Estetika Tarakan, Kabel Utilitas Semrawut Picu Biaya Ekonomi

Zakaria RT • Selasa, 14 Juli 2026 | 20:02 WIB
Ilustrasi Kabel Utilitas Semrawut
Ilustrasi Kabel Utilitas Semrawut

TARAKAN – Semrawutnya jaringan kabel utilitas di sejumlah ruas jalan Kota Tarakan dinilai tidak hanya mengurangi estetika kota, tetapi juga memunculkan biaya ekonomi yang harus ditanggung masyarakat dan pelaku usaha. Gangguan terhadap kendaraan logistik, menurunnya efisiensi distribusi barang, hingga berkurangnya daya tarik investasi menjadi dampak yang dinilai mulai perlu mendapat perhatian serius.

Akademisi Ekonomi Universitas Borneo Tarakan (UBT), Dr. Margiyono, S.E., M.Si., mengatakan, perkembangan kota memang tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan energi, komunikasi, dan transportasi. Di balik manfaat tersebut, pembangunan jaringan utilitas juga menimbulkan eksternalitas negatif yang harus dikelola.

"Perkembangan kota tidak bisa dipisahkan dengan kebutuhan fasilitasnya, baik energi, komunikasi maupun transportasi. Semua itu memberikan eksternalitas positif, tetapi juga menimbulkan eksternalitas negatif yang harus dikelola," ujarnya, Senin (13/7).

Menurutnya, salah satu persoalan yang kini mulai terlihat adalah banyaknya kabel utilitas yang menggantung rendah hingga mengganggu kendaraan bertonase besar. "Kabel-kabel itu kadang melengkung sampai hampir menyentuh bak kendaraan. Bahkan kendaraan besar yang membawa peti kemas atau alat berat sering harus menggunakan galah untuk mengangkat kabel agar bisa lewat. Ini jelas mengganggu akses transportasi," katanya.

Margiyono menjelaskan, hambatan terhadap kendaraan logistik secara langsung berdampak pada kegiatan ekonomi. Ketika truk pengangkut barang harus berhenti, memperlambat perjalanan, atau mencari jalur lain, biaya operasional akan meningkat karena waktu tempuh lebih lama dan konsumsi bahan bakar bertambah.

"Kalau distribusi barang tidak lancar, ongkos logistik ikut naik. Waktu terbuang, biaya operasional bertambah, produktivitas menurun. Pada akhirnya biaya itu bisa dibebankan ke harga barang yang dibayar masyarakat. Inilah yang saya maksud sebagai biaya ekonomi," jelasnya.

Selain menghambat distribusi barang, kondisi kabel yang tidak tertata juga dinilai mengurangi daya tarik investasi. Menurut Margiyono, investor tidak hanya melihat potensi pasar, tetapi juga kualitas infrastruktur dan tata kelola perkotaan.

"Kota yang rapi menunjukkan tata kelola yang baik. Sebaliknya, kalau utilitasnya semrawut, itu bisa memberi kesan pembangunan infrastrukturnya belum tertata sehingga memengaruhi persepsi investor," ujarnya.

Ia mencontohkan jaringan kabel listrik maupun telekomunikasi kini memenuhi kawasan permukiman hingga jalan-jalan utama. Bahkan di sejumlah lokasi masih terdapat tiang listrik lama yang berdampingan dengan tiang baru sehingga semakin menambah kesan semrawut.

Margiyono juga mengaku mengalami sendiri persoalan tersebut di lingkungan tempat tinggalnya. Menurutnya, kabel yang sudah tidak digunakan sering kali dibiarkan tetap menggantung setelah pelanggan berhenti berlangganan.

"Di depan rumah saya ada satu tiang yang menyalurkan kabel ke banyak rumah. Karena rumah kontrakan sering berganti penyewa, setiap pemasangan baru kabel lama tidak dicabut. Saya pernah membersihkan satu karung penuh kabel bekas yang sudah tidak digunakan," ungkapnya.

Ia menilai penyedia layanan seharusnya memiliki mekanisme pencabutan kabel yang sudah tidak aktif agar tidak terus menumpuk di lingkungan masyarakat. "Kalau pelanggan pindah, kabel lama mestinya diputus atau dibersihkan. Jangan dibiarkan menggantung sehingga semakin semrawut," katanya.

Margiyono menambahkan, penataan jaringan utilitas perlu menjadi bagian dari perencanaan pembangunan kota. Selain menjaga estetika, langkah tersebut akan meningkatkan efisiensi ekonomi, memperbaiki citra kota, dan mendukung iklim investasi di Tarakan.

"Kalau Tarakan ingin menjadi metropolitan Kalimantan Utara, kota yang layak huni dan modern, maka pemerintah harus mulai memikirkan penataan jaringan utilitas. Jangan sampai kita tegas kepada pedagang kecil, tetapi perusahaan besar yang memperoleh manfaat ekonomi justru tidak didorong ikut menjaga keindahan dan ketertiban kota," pungkasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
kabel utilitas tarakan ekonomi