TARAKAN – Semrawutnya jaringan kabel utilitas di sejumlah ruas jalan Kota Tarakan dinilai bukan sekadar persoalan estetika, tetapi juga menimbulkan biaya ekonomi yang dapat menghambat daya saing daerah. Pemerintah daerah didorong segera menata jaringan utilitas agar pertumbuhan kota berjalan seiring dengan peningkatan kualitas tata ruang dan iklim investasi.
Akademisi Ekonomi Universitas Borneo Tarakan (UBT), Dr. Margiyono, S.E., M.Si., mengatakan, perkembangan kota tidak dapat dipisahkan dari meningkatnya kebutuhan terhadap energi, komunikasi, dan transportasi. Semakin berkembang suatu daerah, semakin besar pula kebutuhan terhadap infrastruktur pendukung tersebut.
"Perkembangan kota tidak bisa dipisahkan dengan kebutuhan fasilitasnya, baik energi, komunikasi maupun transportasi. Semua itu memberikan eksternalitas positif, tetapi juga menimbulkan eksternalitas negatif yang harus dikelola," ujarnya, Senin (13/7).
Menurutnya, pertumbuhan aktivitas ekonomi mendorong meningkatnya kebutuhan listrik dan internet. Terlebih sejak pandemi Covid-19, internet telah menjadi kebutuhan yang hampir tidak dapat dipisahkan dari aktivitas masyarakat.
"Kalau dulu kebutuhan dasar itu pangan, sandang dan papan, sekarang internet seolah menjadi kebutuhan dasar yang keempat. Hampir semua aktivitas masyarakat bergantung pada internet, mulai pendidikan, bisnis hingga komunikasi," katanya.
Pesatnya pembangunan jaringan utilitas tersebut diakui memberikan manfaat besar bagi masyarakat. Namun di sisi lain, bertambahnya kabel-kabel yang melintang di berbagai sudut kota memunculkan polusi visual karena penataannya belum mengikuti perkembangan kawasan perkotaan.
"Kadang-kadang kita kurang proporsional melihatnya. Dari sisi pelayanan tentu sangat baik karena masyarakat semakin mudah mendapatkan listrik maupun internet. Tetapi di sisi lain muncul dampak negatif berupa polusi visual," ucapnya.
Margiyono menjelaskan, dalam perspektif ekonomi kondisi tersebut merupakan bentuk eksternalitas negatif yang memunculkan biaya sosial. Dampaknya tidak hanya dirasakan dari sisi keindahan kota, tetapi juga terhadap iklim investasi, sektor perdagangan, hingga potensi pariwisata.
Menurutnya, wajah kota yang tertata akan meningkatkan kepercayaan investor dan memberikan nilai tambah bagi aktivitas ekonomi. Sebaliknya, kota yang terlihat semrawut dapat menurunkan daya tarik investasi karena menciptakan persepsi tata kelola yang kurang baik.
Selain itu, kawasan yang dipenuhi kabel utilitas tanpa penataan juga berpotensi menurunkan nilai kawasan, meningkatkan biaya pemeliharaan infrastruktur, serta mengganggu aktivitas ekonomi apabila terjadi gangguan jaringan yang berdampak pada layanan listrik maupun internet.
"Kalau dibiarkan, biaya ekonomi yang ditanggung masyarakat juga semakin besar. Mulai dari terganggunya aktivitas usaha ketika jaringan bermasalah, meningkatnya biaya perawatan, sampai berkurangnya daya tarik kota bagi investor dan wisatawan," jelasnya.
Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah bersama seluruh penyedia utilitas menyusun penataan jaringan secara terpadu. Penataan tersebut dinilai penting agar kebutuhan masyarakat terhadap layanan listrik dan internet tetap terpenuhi tanpa mengorbankan kualitas tata ruang perkotaan.
"Intinya pembangunan harus tetap berjalan, tetapi harus dibarengi penataan yang baik sehingga manfaat ekonominya maksimal dan dampak negatifnya bisa diminimalkan," pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT