TARAKAN – Penebangan vegetasi di kawasan berbukit dinilai tidak bisa lagi dipandang sebagai persoalan biasa. Berkurangnya tutupan tanaman berakar kuat berpotensi melemahkan daya ikat tanah, mempercepat erosi, dan meningkatkan ancaman longsor, terutama saat curah hujan tinggi mengguyur Kota Tarakan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tarakan, Andry Rawung mengatakan, pelestarian vegetasi harus menjadi tanggung jawab bersama. Menurutnya, bambu merupakan salah satu tanaman yang memiliki kemampuan menjaga kestabilan lereng karena sistem perakarannya mampu mengikat tanah sekaligus meningkatkan resapan air.
" Saya kira ini perlu kesadaran bersama agar kita tidak melakukan penebangan vegetasi secara sembarangan tanpa memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan. Pembukaan lahan sebaiknya tetap diikuti dengan penanaman kembali agar fungsi ekologis kawasan tetap terjaga dan risiko bencana dapat diminimalkan," ujarnya, Jumat (10/7).
Ia mengatakan, upaya mitigasi bencana tidak cukup hanya melalui pembangunan fisik. Menjaga vegetasi yang sudah ada, terutama rumpun bambu, merupakan langkah sederhana yang memiliki manfaat besar dalam mengurangi potensi longsor di kawasan permukiman.
"Selain tidak menebang rumpun bambu yang sudah ada, kami berharap masyarakat juga mulai menanam bambu di kawasan rawan longsor sebagai investasi jangka panjang dalam mengurangi risiko bencana. Kalau bisa jangan menunggu pemerintah. Masyarakat juga harus punya inisiatif melakukan mitigasi karena mereka yang lebih tahu kondisi rumah dan lingkungannya," pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT