TARAKAN - Ketimpangan minat masyarakat terhadap SMA dan SMK masih menjadi tantangan dalam pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ini di Kalimantan Utara. Sejumlah SMA favorit mengalami lonjakan pendaftar jauh di atas daya tampung, sementara beberapa SMA maupun SMK lainnya belum memenuhi kuota yang tersedia.
Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Utara, Hasanuddin mengungkapkan, berdasarkan data sementara jumlah pendaftar jenjang SMA mencapai sekitar 6.111 orang, sedangkan peminat SMK berkisar 3.300 orang dari total sekitar 9.444 calon peserta didik.
"Sekolah-sekolah favorit memang masih menjadi tujuan utama masyarakat. Akibatnya terjadi penumpukan pendaftar di sekolah tertentu, sementara sekolah lain masih memiliki daya tampung yang cukup besar," ujarnya, Selasa (30/6).
Menurut Hasanuddin, salah satu sekolah yang mengalami lonjakan pendaftar adalah SMA Negeri 1 Tarakan. Hampir 300 calon peserta didik tidak dapat diterima karena jumlah pendaftar jauh melampaui kapasitas sekolah.
"Di SMA Negeri 1 Tarakan misalnya, hampir 300 anak tidak bisa diterima karena memang daya tampungnya terbatas. Ini bukan karena sekolah menolak, tetapi memang kuota yang tersedia tidak mencukupi dibanding jumlah pendaftar," katanya.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Disdikbud Kaltara terus mengarahkan calon peserta didik ke sekolah lain yang masih memiliki kursi kosong. Langkah redistribusi dinilai menjadi solusi paling memungkinkan dibanding memaksakan penambahan rombongan belajar (rombel).
Hasanuddin menegaskan, usulan penambahan rombel bukan perkara sederhana. Kebijakan tersebut harus mempertimbangkan ketersediaan ruang kelas, jumlah guru, beban kerja tenaga pendidik, sarana dan prasarana, hingga standar pelayanan minimal yang telah ditetapkan pemerintah pusat.
"Kami tidak mungkin menambah rombel begitu saja. Ada banyak hal yang harus dipenuhi, mulai dari ruang kelas, jumlah guru, sarana prasarana hingga ketentuan dalam regulasi. Kalau dipaksakan, nanti justru melanggar aturan dan berdampak pada kualitas pembelajaran. Jadi kami tetap harus mengikuti ketentuan yang berlaku," tegasnya.
Selain melakukan pemerataan peserta didik, Disdikbud Kaltara juga menyiapkan dukungan transportasi berupa bus sekolah di beberapa daerah agar siswa tetap dapat mengakses sekolah yang lokasinya lebih jauh dari tempat tinggal.
"Kami berupaya mengarahkan siswa ke sekolah yang kuotanya masih tersedia. Bahkan di beberapa daerah sudah disiapkan bus sekolah agar persoalan jarak tidak lagi menjadi alasan masyarakat enggan memilih sekolah lain," jelasnya.
Hasanuddin berharap pelaksanaan SPMB tahun ini menjadi bahan evaluasi bersama. Selain penyempurnaan regulasi, peningkatan sosialisasi kepada masyarakat juga dinilai penting agar setiap perubahan kebijakan dapat dipahami sejak awal dan tidak lagi menimbulkan kesalahpahaman saat proses penerimaan peserta didik berlangsung.
"Kami berharap pelaksanaan SPMB tahun ini menjadi bahan evaluasi bersama. Selain penyempurnaan regulasi, peningkatan sosialisasi kepada masyarakat juga dinilai penting agar setiap perubahan kebijakan dapat dipahami sejak awal dan tidak lagi menimbulkan kesalahpahaman saat proses penerimaan peserta didik berlangsung," pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT