TARAKAN – Ketersediaan reagen dinilai menjadi faktor paling krusial dalam menjaga keberlangsungan layanan laboratorium kesehatan di Kota Tarakan. Meski fasilitas pemeriksaan terus diperkuat dengan alat modern seperti Polymerase Chain Reaction (PCR), seluruh proses pemeriksaan tetap bergantung pada ketersediaan bahan uji tersebut.
Kepala Labkesda Tarakan, Sri Wahyuni menegaskan, reagen merupakan komponen utama dalam setiap pemeriksaan laboratorium, baik untuk layanan klinik maupun pemeriksaan kesehatan lingkungan. “Reagen itu bahan utama pemeriksaan. Jadi semua pemeriksaan itu sangat tergantung reagen. Mau alatnya bagus seperti apa pun, kalau reagen tidak tersedia, pemeriksaan tidak bisa dilakukan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, layanan laboratorium tidak hanya mencakup pemeriksaan klinik seperti darah, urin, dan feses, tetapi juga pengujian sampel lingkungan seperti air, makanan, hingga limbah. Seluruh proses tersebut memerlukan dukungan reagen agar hasil pemeriksaan dapat dilakukan secara akurat.
Menurutnya, keberadaan alat canggih tanpa dukungan bahan pemeriksaan yang memadai tidak akan mampu menunjang pelayanan kesehatan masyarakat. “Kalau reagen tidak tersedia, otomatis layanan bisa terhenti. Jadi memang harus selalu tersedia supaya pelayanan tetap berjalan, karena setiap hari ada sampel yang harus diperiksa,” katanya.
Sri Wahyuni menambahkan, pengalaman pandemi COVID-19 memberikan pelajaran besar terkait pentingnya kesiapan logistik laboratorium, termasuk ketersediaan bahan pemeriksaan yang harus dijaga secara berkelanjutan.
Pada masa awal pandemi, Labkesda Tarakan belum memiliki fasilitas PCR sendiri sehingga pemeriksaan sampel harus dikirim ke laboratorium luar daerah. Saat itu, keterbatasan alat dan bahan pemeriksaan menjadi tantangan dalam percepatan penanganan kasus.
Kini, fasilitas PCR mandiri telah tersedia di Tarakan sehingga pemeriksaan dapat dilakukan lebih cepat tanpa ketergantungan pada laboratorium luar daerah. “Alhamdulillah sekarang kita sudah punya PCR sendiri. Jadi kalau ada infeksi emerging atau keadaan darurat kesehatan, kita sudah bisa berperan lebih maksimal,” jelasnya.
Selain memperkuat fasilitas pemeriksaan, Labkesda Tarakan juga menerapkan standar Biosafety Level 2 (BSL-2) untuk memastikan keamanan dalam penanganan spesimen yang berpotensi mengandung risiko biologis.
Dalam mendukung pelayanan kesehatan daerah, Labkesda Tarakan juga terus memperkuat koordinasi lintas sektor bersama Dinas Kesehatan dan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), terutama dalam pengawasan penyakit menular dan penanganan kondisi kedaruratan kesehatan.
“Kita harus lebih siap dan lebih mandiri supaya bisa merespons lebih cepat kalau ada kejadian luar biasa di masa mendatang,” tutupnya. (zar/jnr)
Editor : Januriansyah RT