TARAKAN - Mengubah pola pikir dan karakter anak menjadi fokus utama Sekolah Rakyat 59 Tarakan. Berhadapan dengan siswa yang berasal dari berbagai latar belakang sosial, sekolah tidak hanya memberikan pendidikan formal, tetapi juga berupaya menghilangkan kebiasaan negatif yang telah melekat sejak dini.
Kepala Sekolah Rakyat 59 Tarakan, Marisa Aulia mengatakan, sebagian peserta didik datang dengan pengalaman hidup yang tidak mudah. Ada yang telah terbiasa meminta-minta di jalan, merokok hingga mengenal minuman keras sebelum akhirnya mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat.
"Mereka datang dengan berbagai latar belakang. Ada yang sudah terbiasa meminta uang kepada orang lain, ada yang sudah mengenal rokok bahkan minuman keras. Semua itu menjadi pekerjaan rumah kami untuk mengubah pola pikir dan karakter mereka," katanya, Senin (29/6).
Menurutnya, pembentukan karakter dilakukan bersamaan dengan proses pembelajaran melalui berbagai kegiatan intrakurikuler maupun ekstrakurikuler yang disesuaikan dengan potensi masing-masing siswa. Langkah tersebut diharapkan mampu membentuk pribadi yang disiplin, mandiri, dan memiliki bekal menghadapi masa depan.
Karena mayoritas siswa masih berada di jenjang SD dan SMP, pembinaan kewirausahaan belum menjadi prioritas. Namun berbagai keterampilan dasar mulai dikenalkan sebagai persiapan ketika mereka memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
"Kalau sekarang kami belum terlalu mendorong mereka berwirausaha karena usianya masih SMP. Tetapi berbagai keterampilan sudah mulai kami siapkan melalui kegiatan sekolah. Nanti ketika sudah SMA tentu pembinaannya akan lebih mengarah kepada kesiapan bekerja maupun berwirausaha," ujarnya.
Marisa menambahkan, bulan depan SR 59 Tarakan akan mulai menempati gedung permanen sekaligus membuka jenjang SMA. Saat ini sekolah tersebut belum memiliki alumni karena siswa tertinggi masih duduk di kelas VIII SMP.
Di sisi lain, minat masyarakat untuk menyekolahkan anak di Sekolah Rakyat terus mengalami peningkatan. Tahun lalu jumlah siswa tercatat 59 orang, sedangkan informasi sementara menunjukkan jumlah pendaftar tahun ini telah mencapai sekitar 150 orang.
"Tahun lalu jumlah murid kami 59 orang. Sekarang informasi sementara pendaftarnya sudah sekitar 150 orang. Artinya animo masyarakat meningkat cukup besar. Data resminya tetap berada di Kemensos karena seluruh proses menggunakan aplikasi pusat," pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT