TARAKAN – Duka mendalam menyelimuti keluarga Burhan setelah putranya, Zivian (5), meninggal dunia pada Jumat pagi (26/6) setelah lima hari menjalani perawatan intensif dalam kondisi koma. Bocah yang menjadi korban kecelakaan tunggal bersama keluarganya itu menghembuskan napas terakhir di RS Pertamina Tarakan sebelum sempat dirujuk ke rumah sakit yang memiliki layanan dokter spesialis bedah anak.
Kepergian Zivian menjadi akhir dari perjuangan panjang keluarga yang sejak awal berharap sang anak dapat memperoleh tindakan operasi sesegera mungkin. Namun keterbatasan layanan spesialis di Tarakan membuat satu-satunya pilihan adalah merujuk Zivian ke rumah sakit di luar daerah. Rencana tersebut tak pernah terwujud karena kondisi pasien yang terus memburuk, sementara keluarga juga dihadapkan pada kendala biaya operasional rujukan yang tidak sedikit.
Saat dikonfirmasi, Ayah Zivian, Burhan menceritakan kondisi anaknya terus mengalami penurunan menjelang meninggal dunia. Menurutnya, sejak dini hari kondisi Zivian sudah sangat kritis dan terus mengalami fluktuasi hingga akhirnya dinyatakan meninggal.
"Sudah kritis sekitar jam dua malam. Jam enam pagi kondisinya turun lagi, jam tujuh turun lagi, lalu jam delapan kembali kritis. Oksigennya sudah maksimal, memang kondisinya sudah sangat parah," ujar Burhan sembari tak kuasa menahan tangis.
Selama menjalani perawatan, Zivian bergantung pada alat bantu pernapasan. Kondisi tersebut membuat proses evakuasi tidak dapat dilakukan menggunakan penerbangan komersial. Apabila dirujuk, Zivian harus diberangkatkan menggunakan ambulans udara atau air ambulance dengan fasilitas medis lengkap agar kondisinya tetap stabil selama perjalanan.
Menurut Burhan, keluarga telah mengetahui bahwa putranya membutuhkan operasi bedah anak yang tidak dapat dilakukan di rumah sakit tempat ia dirawat, karena belum tersedia dokter spesialis yang dibutuhkan. Meski demikian, keluarga tidak mampu menanggung biaya operasional rujukan yang nilainya sangat besar sehingga hanya bisa menunggu sembari berharap ada bantuan.
"Terakhir belum ada kepastian soal bantuan rujukan. Kalau memang dirujuk, itu pun harus pakai ambulans air jet karena kondisinya sudah berat. Dia sudah menggunakan alat bantu pernapasan, jadi tidak mungkin naik pesawat biasa karena berbahaya," katanya.
Di tengah kondisi yang semakin kritis, Burhan mengaku keluarganya tidak memiliki pilihan lain selain menunggu. Harapan agar putranya dapat segera diberangkatkan ke rumah sakit rujukan akhirnya pupus setelah kondisi Zivian terus menurun hingga mengembuskan napas terakhir.
Jenazah Zivian dimakamkan pada Jumat siang usai Salat Jumat di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karang Anyar. Suasana haru menyelimuti prosesi pemakaman yang dihadiri keluarga, kerabat, dan warga yang turut mengantar kepergian bocah tersebut ke tempat peristirahatan terakhir.
"Memang kami masih menunggu. Tidak ada kepastian yang kami terima saat itu sehingga kami hanya bisa berharap," ucapnya.
Meski kehilangan putra tercinta, Burhan mengaku telah mengikhlaskan kepergian anaknya. Namun ia berharap tragedi yang dialami keluarganya dapat menjadi momentum evaluasi bagi pemerintah dalam meningkatkan pelayanan kesehatan, khususnya di Kalimantan Utara.
Menurutnya, masih banyak pasien yang harus dirujuk ke luar daerah karena keterbatasan dokter spesialis maupun fasilitas medis. Kondisi tersebut menjadi persoalan besar bagi keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi karena selain harus menghadapi kondisi pasien yang kritis, mereka juga dibebani biaya rujukan yang sangat tinggi.
"Masalah ini saya sudah ikhlas mungkin ini sudah takdir yang di atas. Tapi saya minta tolong mudahan tidak ada lagi yang mengalami seperti saya. Yang saya harapkan ke depan pemerintah bisa membenahi pelayanan kesehatan. Fasilitas rumah sakit harus dilengkapi supaya masyarakat yang sakit tidak perlu dirujuk jauh-jauh. Biaya ke luar daerah itu sangat besar dan tidak semua orang mampu," ungkapnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT