TARAKAN – Upaya penyelundupan telepon genggam ke dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Tarakan kembali terjadi dengan modus yang terbilang nekat. Seorang perempuan berinisial JA kedapatan menyembunyikan sebuah telepon genggam di dalam alat kelaminnya saat hendak membesuk narapidana, Rabu (24/6).
Kasus tersebut terungkap saat petugas perempuan di Pos Pintu Utama (P2U) melakukan pemeriksaan badan terhadap pengunjung. Sebelumnya, pemeriksaan barang bawaan dan makanan yang dibawa JA tidak menemukan benda mencurigakan.
Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP) Lapas Tarakan, Trisno Witanta Tarigan mengatakan, petugas mulai menaruh curiga setelah melihat gelagat JA yang dinilai tidak biasa saat pemeriksaan berlangsung.
“Petugas menemukan pembalut yang diselipkan di dalam pakaian. Yang bersangkutan mengaku sedang menstruasi, tetapi karena sikapnya mencurigakan, dilakukan pemeriksaan lanjutan,” ujarnya, Kamis (25/6).
Petugas kemudian membawa JA ke kamar mandi untuk pemeriksaan lebih mendalam. Dari hasil pemeriksaan tersebut, ditemukan sebuah telepon genggam yang disembunyikan di bagian intim tubuhnya.
Setelah diamankan, JA mengaku diminta seorang warga binaan berinisial YA untuk memasukkan telepon genggam ke dalam lapas. Sebagai imbalan, JA dijanjikan uang sebesar Rp 200 ribu, meski uang tersebut belum sempat diterima.
“Komunikasi mereka dilakukan melalui wartel khusus di dalam lapas sehari sebelum penyelundupan dilakukan,” kata Trisno.
Ia menjelaskan, hubungan JA dan YA bukan keluarga. JA diketahui merupakan teman dari istri narapidana tersebut. Pihak lapas langsung melakukan pemeriksaan administrasi dan membuat berita acara terkait kasus tersebut. Sementara itu, JA dikenakan sanksi larangan berkunjung ke Lapas Tarakan untuk waktu yang belum ditentukan.
Di sisi lain, narapidana YA terancam mendapat sanksi disiplin melalui sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP). Bentuk hukumannya dapat berupa Register F hingga kemungkinan pemindahan ke lapas lain.
Kasus ini juga menjadi evaluasi serius bagi pihak lapas, terutama karena alat pemindai X-ray saat ini dalam kondisi rusak sehingga pemeriksaan masih dilakukan secara manual.
“Kami akan memperketat pemeriksaan dan mengoptimalkan personel pengamanan sambil menunggu fasilitas pendukung kembali normal,” tegas Trisno. (zar/jnr)
Editor : Januriansyah RT