TARAKAN - Badan Pusat Statistik (BPS) Tarakan menyoroti sejumlah faktor yang memengaruhi inflasi di daerah dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan harga makanan dan minuman jadi hingga produk kebutuhan rumah tangga berbahan plastik menjadi penyumbang utama peningkatan harga yang dirasakan masyarakat.
Kepala BPS Tarakan, Umar mengatakan, kelompok makanan, minuman dan tembakau masih menjadi penyumbang terbesar inflasi. Kondisi tersebut merupakan akumulasi dari penyesuaian harga yang terjadi pada berbagai usaha kuliner, mulai dari restoran, kafe hingga warung makan.
Menurutnya, meskipun kenaikan harga di tingkat pelaku usaha terlihat kecil, dampaknya akan terasa apabila berlangsung secara bertahap dan terus-menerus. “Jadi bukan hanya kafe atau restoran besar. Warung makan biasa juga mengalami berbagai dinamika biaya. Mungkin kenaikannya terlihat kecil, tetapi kalau sedikit demi sedikit terus bertambah, lama-lama akan terasa bagi masyarakat. Sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit, lama-lama jadi sakit,” ujarnya, Rabu (24/6).
Selain kelompok makanan dan minuman, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga juga memberikan andil terhadap inflasi. Salah satu pemicunya adalah kenaikan harga berbagai produk berbahan plastik yang banyak digunakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Umar menilai kondisi tersebut tidak terlepas dari pengaruh situasi global yang berdampak pada rantai pasok dan harga bahan baku di berbagai negara, termasuk Indonesia. “Salah satu yang menyumbang adalah kenaikan harga plastik. Ini menunjukkan bagaimana situasi di Timur Tengah yang terjadi jauh dari kita ternyata bisa berdampak sampai ke kebutuhan rumah tangga di Tarakan. Barang-barang berbasis plastik ikut mengalami kenaikan harga,” katanya.
Ia juga mengingatkan adanya potensi tekanan inflasi dari sektor energi menyusul kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi. Menurutnya, perubahan harga BBM dapat memengaruhi pola konsumsi masyarakat, terutama dalam pemilihan jenis bahan bakar yang digunakan.
“Dengan naiknya Pertamax misalnya, bisa saja ada masyarakat yang kemudian beralih ke Pertalite karena pertimbangan ekonomi. Ketika perpindahan itu terjadi, antrean bisa menjadi lebih panjang dan ini perlu diantisipasi agar tidak menimbulkan persoalan baru,” jelasnya.
Meski demikian, Umar menilai kondisi pasokan BBM di Tarakan masih relatif aman dibandingkan sejumlah daerah lain yang sempat mengalami gangguan distribusi. Ia berharap keseimbangan antara kebutuhan masyarakat dan ketersediaan pasokan tetap terjaga.
“Kalau kita lihat sekarang, Tarakan masih cukup beruntung karena belum mengalami antrean panjang seperti di beberapa daerah lain. Mudah-mudahan pasokan tetap terjaga dan rasio antara kebutuhan masyarakat dengan ketersediaan BBM tetap seimbang,” katanya.
Di tengah tekanan inflasi tersebut, perekonomian Tarakan masih menunjukkan kinerja positif. BPS mencatat Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Tarakan pada triwulan I 2026 atas dasar harga berlaku mencapai Rp 15,45 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp7,24 triliun. Secara tahunan atau year on year (y-on-y), ekonomi Tarakan tumbuh 5,26 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tertinggi dari sisi produksi terjadi pada lapangan usaha administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib yang tumbuh 16,23 persen. Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 11,31 persen, sementara sektor perdagangan serta reparasi mobil dan sepeda motor tumbuh 9,75 persen.
“Ini menunjukkan aktivitas ekonomi masyarakat masih berjalan cukup baik. Perdagangan tetap tumbuh kuat dan sektor jasa juga memberikan kontribusi yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah,” jelasnya.
Sementara dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi tercatat pada pengeluaran konsumsi pemerintah sebesar 11,09 persen. Disusul konsumsi rumah tangga sebesar 7,08 persen dan konsumsi lembaga non-profit yang melayani rumah tangga sebesar 7,01 persen.
Meski demikian, jika dibandingkan triwulan sebelumnya atau quarter to quarter (q-to-q), ekonomi Tarakan mengalami kontraksi sebesar 2,16 persen. Umar menilai kondisi tersebut merupakan pola yang lazim terjadi pada awal tahun.
“Kalau dibandingkan triwulan IV tahun lalu memang terjadi kontraksi. Ini sesuatu yang lazim karena pada awal tahun biasanya aktivitas pemerintah dan sejumlah sektor ekonomi belum sekuat pada akhir tahun anggaran,” ucapnya.
Umar menambahkan, Kota Tarakan masih menjadi penyumbang terbesar perekonomian Kalimantan Utara dengan kontribusi mencapai 37,88 persen terhadap struktur ekonomi provinsi pada triwulan I 2026.
“Kontribusi Tarakan terhadap ekonomi Kalimantan Utara masih yang terbesar, hampir 38 persen. Karena itu menjaga stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi di Tarakan menjadi penting, bukan hanya untuk kota ini tetapi juga bagi perekonomian Kalimantan Utara secara keseluruhan,” pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT