0 Kaltara Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Menjaga Budaya di Atas Kanvas, Jalan Panjang Khusni Tamrin Melawan Keraguan dan Zaman

Zakaria RT • Senin, 22 Juni 2026 | 16:21 WIB
KARYA : Khusni Tamrin menunjukkan karyanya yang belum selesai. Karya ini dipersiapkan untuk dipajang pada agenda Pameran Nasional Borneo Metamorfosa di Palangkaraya pada Juli mendatang. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
KARYA : Khusni Tamrin menunjukkan karyanya yang belum selesai. Karya ini dipersiapkan untuk dipajang pada agenda Pameran Nasional Borneo Metamorfosa di Palangkaraya pada Juli mendatang. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

KHUSNI Tamrin adalah seorang seni rupa yang juga sekaligus Ketua Himpunan Seniman Seni Rupa Tarakan (Hisset). Ia mendedikasikan dirinya untuk tetap merawat seni yang ia yakini tak mampu dimakan deras kecanggihan teknologi saat ini. Menurutnya, seni bukan hanya sekadar sarana menciptakan keindahan.

Namun lebih dari itu, Seni adalah media yang mampu merekam perjalanan sebuah masyarakat, menyimpan nilai-nilai yang diwariskan turun-temurun, sekaligus menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Karena itulah sebagian besar karya yang lahir dari tangannya selalu memiliki keterkaitan dengan budaya, tradisi, dan kehidupan masyarakat Kalimantan.

“Menjadi seniman bukanlah sebuah profesi atau pekerjaan, menjadi seniman adalah bentuk ekspresi jiwa dan spiritual yang merdeka dari perubahan zaman kemudian menuangkannya ke sebagai bentuk karya. Budaya itu harus tetap dipegang. Alam bisa berubah, zaman bisa berubah, tetapi budaya tidak boleh hilang,” ujarnya, Jumat (19/6).

Kalimat tersebut bukan sekadar ungkapan, kalimat tersebut merupakan prinsip hidup yang selama puluhan tahun membimbing arah perjalanan keseniannya. Hampir setiap karya yang ia hasilkan lahir dari kegelisahan yang sama, yakni bagaimana menjaga agar budaya lokal tidak perlahan memudar di tengah perubahan zaman yang begitu cepat. Di saat generasi muda semakin akrab dengan budaya global melalui teknologi dan media sosial, Khusni merasa ada tanggung jawab moral untuk terus menghadirkan budaya lokal dalam bentuk yang menarik dan mudah dikenali.

"Saya meyakini selama seni masih berjaga, budaya tidak akan pernah tengelam oleh perubahan zaman. Melalui karya seni, kita dapat merawat budaya melakui sajian-sajian menarik yang diciptakan menyesuaikan perkembangan zaman," urainya.

Lahir di Kalimantan Barat pada 10 November 1962, Khusni tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sebenarnya jauh dari dunia seni. Ayahnya merupakan seorang anggota militer yang sepanjang masa dinas harus berpindah-pindah mengikuti penugasan negara. Kehidupan keluarga mereka berpindah dari satu daerah ke daerah lain sebelum akhirnya sang ayah menyelesaikan masa tugas dan memutuskan menetap di Tarakan. Lingkungan keluarga yang disiplin dan kental dengan nilai-nilai kemiliteran itu menjadi bagian dari masa kecil yang membentuk karakter Khusni hingga sekarang.

Sebagai anak ketujuh dari sepuluh bersaudara, Khusni tumbuh di tengah keluarga besar dengan beragam karakter dan minat. Namun dari seluruh saudara kandungnya, hanya dirinya dan seorang kakaknya yang memiliki ketertarikan kuat terhadap dunia seni. Ketika saudara-saudara lainnya memilih jalan hidup yang berbeda, keduanya justru menemukan kesenangan dalam menggambar, menciptakan bentuk, dan mengekspresikan imajinasi melalui karya visual. Ketertarikan itu muncul secara alami tanpa dorongan dari siapa pun.

Kecintaan terhadap seni bermula dari hal yang sangat sederhana. Saat masih kecil, ia senang mengamati lingkungan sekitarnya. Hamparan langit, pepohonan yang tertiup angin, aliran sungai, hingga aktivitas masyarakat yang ditemuinya sehari-hari sering memancing rasa ingin tahunya. Ia tidak hanya menikmati pemandangan tersebut, tetapi juga mulai membayangkan bagaimana jika semua itu dituangkan ke dalam sebuah gambar. Dari kebiasaan mengamati itulah perlahan muncul ketertarikan yang kemudian berkembang menjadi kecintaan mendalam terhadap seni rupa.

“Saya menyukai seni sejak kecil, saya melihat alam, lalu berpikir bagaimana kalau alam ini saya lukis. Melihat hewan kemudian saya juga tertarik melukisnya, semua hal yang saya lihat saya ingin melukisnya. Dan waktu itu saya mulai mencintai seni," ucapnya.

Ketertarikan itu terus tumbuh seiring bertambahnya usia. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, ia mulai belajar membuat sketsa sederhana menggunakan pensil. Awalnya hanya gambar-gambar hitam putih, tetapi seiring waktu ia mulai mengenal teknik pencampuran warna, memahami proporsi bentuk, hingga mempelajari anatomi manusia dan hewan. Pada masa itu fasilitas untuk belajar seni tidak semudah sekarang. Pilihan cat dan perlengkapan melukis sangat terbatas, tetapi keterbatasan tersebut justru membuatnya semakin kreatif dalam belajar secara mandiri.

Memasuki usia remaja, kegemaran tersebut tidak pernah surut. Sebaliknya, seni semakin menjadi bagian penting dalam kehidupannya. Ketika banyak teman seusianya mulai memikirkan profesi yang dianggap menjanjikan secara ekonomi, Khusni justru semakin yakin bahwa dunia seni adalah tempat yang ingin ia jalani. Ia mulai mempelajari berbagai aliran seni rupa, dari realisme hingga ekspresionisme. Proses panjang itu membuatnya memahami bahwa menjadi seniman bukan hanya soal kemampuan menggambar, tetapi juga soal cara berpikir dan memandang kehidupan.

Namun keyakinan tersebut tidak selalu mendapat dukungan penuh dari keluarga. Setelah lulus SMA, orang tuanya berharap ia mengikuti jejak sang ayah dengan masuk dunia militer. Harapan itu cukup beralasan karena pada masa tersebut anak-anak keluarga militer memiliki peluang lebih besar untuk mengikuti jalur yang sama. Apalagi sang ayah merupakan seorang perwira yang memiliki jaringan dan pengalaman panjang di lingkungan militer.

“Kalau masuk militer waktu itu sebenarnya lebih mudah. Orang tua tinggal merekomendasikan. Tapi saya memang tidak tertarik. Sudah bukan rahasia lagi, sistem militer memiliki 1 jatah anggota keluarga yang bisa meneruskan karir orangtuanya itu sudah menjadi rahasia umum. Tapi saya sama sekalian tidak tertarik menjadi tentara. Begitu juga dengan pekerjaan abdi negara lainnya. Waktu itu kita tahu masih sangat mudah masuk ke sana, tidak seperti sekarang tesnya sangat ketat. Saya bisa dengan mudah masuk ke sana melalui jalur relasi orang tua, cuma saya sama sekali tidak tertarik," tuturnya

Keputusan tersebut sempat menimbulkan perbedaan pandangan dengan keluarga. Di mata banyak orang pada masa itu, menjadi seniman bukanlah pilihan yang menjanjikan. Profesi tersebut dianggap tidak memiliki kepastian masa depan dibandingkan pekerjaan lain yang lebih mapan. Pertanyaan yang terus muncul dari orang-orang terdekatnya pun hampir selalu sama.

Mau hidup apa dengan seni? ucap Khusni menirukan bentakan sang ayah yang marah saat ia menolak permintaan ayahnya untuk mengeluti karir sebagai militer dan menolak opsi pekerja kantoran di sebuah perusahaan ternama. Desakan sang ayah terus terngiang selama bertahun-tahun. Namun alih-alih menyerah, Khusni justru menjadikannya sebagai tantangan. Ia percaya bahwa setiap orang memiliki jalannya sendiri dan keberhasilan tidak selalu harus mengikuti ukuran yang ditentukan orang lain. Keyakinan itulah yang membuatnya tetap bertahan ketika menghadapi berbagai kesulitan di awal perjalanan kariernya sebagai seniman.

"Ayah saya sangat menentang pilihan hidup saya. Karena waktu itu stigma seniman negatif dari perspektif kemapanan. Tapi sebagai anak laki-laki saya tetap ngotot dan menyakinkan orang tua kalau saya punya jalan hidup sendiri," tegasnya.

Seiring berjalannya, waktu ia bisa membuktikan jika pilihan hidupnya tidak salah.  Bahkan saat ini ia telah bisa hidup mapan sebagai seniman. Namanya pun terus dikenal dan Khusni kerap menjadi seniman rekomendasi untuk kegiatan proyek pemerintah yang berhubungan dengan kesenian. Alhasil beberapa pekerjaan besar dari pemerintah pernah dikerjakannya. Diantaranya, Lukisan raksasa Kepala daerah dan Menteri dengan tinggi 10 meter saat peresmian Kota Tarakan tahun 1997, karya monumental yang paling dikenal masyarakat adalah relief budaya Tidung sepanjang 77 meter dengan lebar 3 meter yang menggambarkan perjalanan legenda Raja Kiding serta monumen hasil perikanan yang akrab dinamakan monumen Minapolitan.

“Waktu Kota Tarakan resmi terbentuk sebagai Kota Madya saya diminta Wali Kota pertama bapak alm Jusuf SK membuat lukisan bergambar gubernur Kalimantan Timur M. Ardans, dan gambar Mendagri Yogi S Memet  yang khusus datang ke sini menghadiri upacara. Tinggu lukisan itu sekitar 10.meter lebarnya 125 meter. Waktu itu upacaranya di lapangan Datu Adil, waktu itu belum ada (belum terbangun) stadion masih lapangan bola. Itu adalah salah satu karya saya yang paling saya ingat," tukasnya.

"Selain itu ada monumen Minapolitan dan relief di rumah adat. Itu karya yang besar,kalau karya yang kecil saya sudah tidak ingat jumlah pastinya, kisaran puluhan ada," sambungnya.

Meski telah menikmati berbagai pencapaian, perjalanan Khusni tidak selalu berjalan mulus. Salah satu tantangan terbesar yang masih ia rasakan hingga sekarang adalah bagaimana membangun apresiasi masyarakat terhadap seni rupa. Menurutnya, masih banyak orang yang memandang seni lukis hanya sebatas gambar pemandangan atau potret manusia, padahal dunia seni memiliki ruang yang jauh lebih luas dengan berbagai teknik, media, dan aliran yang memiliki nilai artistik tersendiri.

“Kendala terbesar kami adalah pasar. Banyak yang belum memahami bahwa seni rupa jauh lebih luas daripada sekadar gambar pemandangan,” katanya.

Meski demikian, Pria Kelahiran tahun 1962 tersebut tidak pernah berpikir untuk berhenti. Filosofi hidupnya sederhana, yakni komitmen dan konsistensi. Ia percaya bahwa keberhasilan seorang seniman tidak ditentukan oleh seberapa cepat ia dikenal, melainkan oleh kemampuannya untuk terus berkarya meskipun menghadapi berbagai keterbatasan.

Kini, di usia yang telah memasuki dekade keenam, Khusni masih setia berdiri di depan kanvas. Tangannya masih lincah memainkan kuas. Pikirannya masih dipenuhi gagasan-gagasan baru tentang budaya yang ingin ia abadikan. Baginya, setiap karya adalah bentuk penghormatan kepada para leluhur yang telah mewariskan identitas budaya kepada generasi sekarang.

Sebab di balik setiap warna yang ia goreskan, terdapat satu keyakinan yang tidak pernah berubah: selama masih ada orang yang mau bercerita melalui seni, budaya tidak akan pernah benar-benar hilang dari ingatan masyarakat.

"Saya berharap generasi muda terus berkarya dengan karakter mereka masing-masing dan jangan pernah putus asa. Dengan berkarya kita bisa hidup, kita bisa memberi manfaat kepada masyarakat, dan kita bisa menjaga budaya yang kita miliki," tutupnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
#kesenian #tarakan #kaltara #seni rupa