0 Kaltara Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Keterbatasan Dokter Subspesialis Jadi Persoalan Semua Daerah, Ini Penjelasan RSUD dr H Jusuf SK

Zakaria RT • Senin, 22 Juni 2026 | 16:14 WIB
BERI PENJELASAN: Plt Direktur RSUD dr Jusuf SK Tarakan, dr Budy Azis B., Sp.PK., MH, menjelaskan upaya pemenuhan kebutuhan dokter subspesialis di rumah sakit milik Pemprov Kaltara tersebut. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
Plt Direktur RSUD dr H Jusuf SK Tarakan, dr Budy Azis B., Sp.PK., MH,. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN – Terbatasnya dokter subspesialis khususnya pada layanan bedah di Indonesia menjadi persoalan tersendiri pada layanan kesehatan. Sehingga kondisi ini berdampak pada layanan fasilitas kesehatan (faskes) di daerah khususnya dalam kondisi darurat.

Menyadari kondisi ini RSUD dr H Jusuf SK Tarakan menyiapkan strategi jangka panjang melalui pengembangan sumber daya manusia (SDM) putra daerah, dengan memulai menyekolahkan beberapa dokter untuk mengambil pendidikan subspesialis dengan sistem ikatan dinas agar setelah lulus kembali mengabdi di daerah.

Plt Direktur RSUD dr H Jusuf SK Tarakan, dr. Budy Azis B., Sp.PK., MH, mengatakan, langkah tersebut dilakukan untuk menghadapi tantangan pelayanan kesehatan di masa depan. Beberapa layanan kebutuhan krusial dokter bedah saraf dan onkologi yang hingga kini sangat terbatas. Dikatakannya, saat ini RSUD Jusuf SK telah memiliki dokter putra daerah asal Tarakan yang saat ini sedang menempuh pendidikan subspesialis bedah saraf. Dokter tersebut mendapatkan dukungan pendidikan dengan perjanjian khusus untuk kembali bertugas di RSUD Jusuf SK setelah menyelesaikan studi.

“Dokter-dokter subspesialis ini lulusannya memang tidak banyak di Indonesia, sehingga ini menjadi kendala bagi layanan kesehatan di daerah. Belum lagi, adanya faktor-faktor X yang membuat lulusan ini terkadang enggan tertarik berkarir di daerah. Selain faktor jauh dari keluarga, minim peluang mencari sampingan karena kalau di Jawa biasanya mereka bisa bekerja untuk 2 atau 3 rumah sakit, dan adaptasi hidup di daerah yang berbeda dengan tempat asalnya. Itu dipungkiri," ujarnya, Selasa (22/6).

"Memang kita sempat mendapatkan dokter yang dibutuhkan, tapi selalu ada saja yang membuat mereka tidak bertahan lama. Salah satunya faktor yang saya sebutkan. Meski status mereka sudah PNS, tapi itu tetap tidak menjamin membuat mereka betah. Jadi kami juga tidak bisa pasrah dengan kondisi ini, jadi saat ini kami mulai menyiapkan strategi panjang dengan menyekolahkan dokter-dokter kami sesuai kebutuhan layanan yang nantinya akan mengisi kekosongan kebutuhan di masa depan," urainya.

Ia menjelaskan, pola pengembangan SDM melalui pendidikan dokter subspesialis dengan ikatan dinas menjadi salah satu solusi yang dinilai lebih efektif dibanding hanya mengandalkan perekrutan dokter spesialis dari luar daerah. Pasalnya, kendala sulitnya mencari dokter sesuai kebutuhan tidak hanya dialami RSUD dr H Jusuf SK namun juga dialami semua daerah di Indonesia. Sehingga ia menegaskan masalah ini sebenarnya menjadi persoalan umum di dunia kesehatan di Indonesia.

“Memang dokter subspesialis jumlahnya masih terbatas. Makanya di daerah lain, ada dokter yang usianya sudah memasuki masa pensiun masih mengabdi karena perannya masih dibutuhkan. Oleh karena itu kami sangat serius melihat kondisi ini dan mulai menjalankan langkah strategis untuk kebutuhan jangka panjang," tukasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
#dokter subspesialis #tarakan #dokter #RSUD Jusuf SK