TARAKAN – Cuaca panas dan aktivitas fisik yang cukup berat menjadi tantangan tersendiri bagi jemaah haji asal Kota Tarakan selama menjalankan ibadah di Tanah Suci. Meski demikian, seluruh rangkaian ibadah dapat dijalani dengan baik berkat kesiapan fisik dan kesabaran para jemaah.
Salah seorang jemaah haji Asmauliah yang merupakan warga kawasan Jembatan Besi mengaku, pengalaman berhaji tahun ini memberikan banyak pelajaran tentang keteguhan hati dan pentingnya menjaga kesabaran dalam setiap kondisi.
“Alhamdulillah. Saya berharap tetap istiqamah dalam beribadah, dan semoga berkah haji membuat kita semakin taat kepada Allah. Itu yang saya rasakan dari ibadah haji,” ujarnya, Rabu (17/6).
Menurutnya, tantangan paling berat dirasakan saat pelaksanaan lempar jumrah. Aktivitas tersebut mengharuskan jemaah berjalan kaki dalam jarak yang cukup jauh selama tiga hari berturut-turut.
“Tantangan terberat itu saat lempar jumrah. Pulang-pergi itu sekitar 10 kilometer dalam tiga hari berturut-turut. Jadi totalnya sekitar 10 kilometer pulang-pergi. Itu yang paling berat,” katanya.
Selain harus menguras tenaga, kondisi cuaca di Arab Saudi juga menjadi tantangan tersendiri. Asmauliah menilai suhu di Madinah jauh lebih panas dibandingkan Makkah, bahkan angin yang berembus pun terasa sangat panas.
“Alhamdulillah hanya sempat pilek dua hari, lalu diberi obat. Kami juga minum air zamzam dan berdoa agar sehat. Alhamdulillah membaik. Cuaca di Madinah sangat panas seperti berhadapan dengan bara api, tapi karena hati tenang, semuanya terasa ringan. Di Makkah tidak terlalu panas, tapi di Madinah anginnya panas. Namun alhamdulillah tidak ada masalah berarti,” tuturnya.
Tak hanya itu, kepadatan jemaah di Mina juga sempat membuat para jemaah harus beradaptasi dengan keterbatasan fasilitas. Antrean panjang untuk menggunakan toilet bahkan dapat berlangsung hingga berjam-jam.
“Di Mina juga cukup berat karena sebagian tidak mendapat tempat, lalu toilet terbatas sementara jamaah banyak. Jadi antreannya bisa sampai 2–3 jam, baik untuk buang air kecil maupun besar,” ungkapnya.
Meski demikian, ia memandang seluruh kesulitan tersebut sebagai bagian dari ujian yang harus dihadapi setiap jemaah tanpa memandang status maupun latar belakang.
“Tapi di situ kita harus sabar. Tempat tidur pun sangat terbatas, bahkan untuk duduk saja seadanya. Tapi kami maklumi kondisi itu. Mungkin itu juga ujian supaya kita bisa merasakan kondisi sesama, tidak ada perbedaan, semua sama sebagai manusia,” jelasnya.
Asmauliah bersyukur mampu menyelesaikan seluruh tahapan ibadah tanpa bantuan kursi roda. Keraguan yang sempat muncul pada hari ketiga lempar jumrah dapat dilalui berkat doa dan keyakinan.
“Alhamdulillah tidak. Walaupun sempat ragu di hari ketiga saat akan lempar jumrah, tapi alhamdulillah diberi kekuatan. Saya hanya banyak berdoa dan yakin,” ujarnya.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi, ia menilai pelayanan kepada jemaah haji Indonesia secara umum berjalan dengan baik. Fasilitas transportasi yang disediakan dinilai cukup membantu mobilitas jemaah menuju Masjidil Haram.
“Alhamdulillah bagus dan lancar. Bus salawat juga bagus, semua pelayanan berjalan baik,” pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT