TARAKAN - Di balik jatuhnya nilai tukar rupiah dalam 2 minggu terakhir menimbulkan dampak positif tersendiri bagi dunia eksportir. Dilapor saat ini harga rumput laut kering di Kota Tarakan menunjukkan tren positif, bila sebelumnya stagnan di harga Rp 17 ribu kini naik menembus harga Rp 21 ribu per kilogram.
Saat dikonfirmasi, Kepala Bidang Budidaya, Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perikanan Tarakan, Husna Ersant Dirgantara mengatakan, kenaikan harga tersebut dipicu meningkatnya permintaan pasar di tengah menurunnya produksi akibat musim pancaroba yang melanda sejumlah daerah penghasil rumput laut. Menurutnya, kondisi tersebut menciptakan ketidakseimbangan antara kebutuhan pasar dan ketersediaan barang sehingga berdampak pada kenaikan harga di tingkat pengumpul.
“Alhamdulillah harga sudah mulai membaik dari Rp1 7.000 ke Rp 18.000. Bahkan kemarin sempat Rp 20.000. Nah sekarang mencapai Rp 21.000 per kilogram dengan kondisi kering. Sedangkan untuk yang lembab sekarang berkisar antara Rp13.000 sampai Rp14.000,” ujarnya, Jumat (12/6).
Ia menjelaskan harga Rp 21 ribu per kilogram berlaku untuk rumput laut yang telah memenuhi standar kadar air di bawah 40 persen. Sementara rumput laut dalam kondisi lembab dihargai sekitar Rp 13 ribu hingga Rp 14 ribu per kilogram, sedangkan rumput laut basah berada pada kisaran Rp 9 ribu hingga Rp 10 ribu per kilogram.
Ersant mengatakan, sebagian besar pengumpul di Tarakan masih menerima rumput laut dalam kondisi lembab sebelum kembali dikeringkan untuk memenuhi standar pasar tujuan. “Banyak pengumpul di Tarakan ambil yang lembab, nanti dijemur lagi. Makanya persyaratan dari penerima di tujuan itu kadar airnya harus di bawah 40 persen. Kami berharap petani menjual dalam bentuk kering agar bisa mendapatkan keuntungan maksimal,” katanya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT