TARAKAN - Terjadinya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax pada Rabu (10/6) lalu, menimbulkan perhatian besar masyarakat. Pasalnya kenaikan tersebut diprediksi bakal menimbulkan efek domino yang besar pada harga kebutuhan pokok. Sehingga hal ini menuai berbagai respon masyarakat. Namun hal tersebut nampaknya belum berdampak langsung pada antusias masyarakat yang menggunakan BBM nonsubsidi. Hal tersebut dapat dilihat di salah satu Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Tarakan.
Saat dikonfirmasi, Koordinator SPBU Gunung Lingkas, Eko Sarwoko mengatakan, sejauh ini ini kenaikan BBM nonsubsidi belum berdampak signifikan terhadap pola pembelian masyarakat di Kota Tarakan. Meski harga melonjak dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter, mayoritas konsumen masih memilih menggunakan BBM beroktan 92 tersebut.
"Antusias pembeli BBM nonsubsidi masih normal, meski terjadi kenaikan Rp 4.100 per liter. di hari kedua belum terlihat adanya perpindahan signifikan dari pengguna Pertamax ke BBM jenis Pertalite. Sebagian besar pelanggan tetap memilih Pertamax mungkin karena takut berganti-ganti BBM menjaga keawetan mesin," ujarnya, Kamis (11/6).
Selain itu, dari pantauan di SPBU Gunung Lingkas menunjukkan aktivitas pengisian BBM berjalan normal. Tidak terlihat antrean kendaraan yang mengular baik di dispenser Pertamax maupun Pertalite meski kenaikan harga baru saja diberlakukan.
Eko mengatakan, pihaknya masih perlu memantau perkembangan dalam beberapa hari ke depan untuk mengetahui apakah kenaikan harga akan memengaruhi pola konsumsi masyarakat. “Belum ada antrean. Pertalite juga normal saja. Sejak kenaikan Pertamax dari kemarin pembelian masih normal. Dari sisi pasokan, Pertamax tidak memiliki kuota khusus seperti BBM subsidi. Pengadaan dilakukan berdasarkan kebutuhan dan permintaa SPBU," jelasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT