TARAKAN – Dalam pemantauan gelombang laut terutama peringatan dini tsunami di perairan Kaltara, BMKG Tarakan melakukan kerjasama dengan Distrik Navigasi (Disnav) yang memiliki buoy atau alat pemantau gelombang laut di sejumlah wilayah perairan.
Kepala Stasiun BMKG Tarakan, Muhammad Sulam Khilmi mengatakan, keberadaan alat tersebut membantu BMKG melakukan verifikasi kondisi laut secara real time ketika terjadi gempa yang berpotensi memicu tsunami.
“Untuk pemantauan tsunami kami bekerja sama dengan Disnav yang memiliki buoy di berbagai wilayah. Saat ada kejadian gempa, data dari alat tersebut dapat membantu kami melakukan verifikasi terhadap perubahan gelombang laut,” katanya.
Ia menegaskan sistem peringatan dini tsunami yang dimiliki BMKG saat ini dirancang untuk memberikan informasi dalam waktu sangat cepat setelah gempa terjadi. Menurutnya, kecepatan penyampaian informasi tersebut sangat penting untuk memberikan waktu kepada masyarakat dan pemerintah daerah dalam melakukan langkah antisipasi apabila terdapat potensi ancaman tsunami.
“Standar BMKG, ketika terjadi gempa bumi, dalam satu hingga tiga menit kami sudah harus mengeluarkan informasi apakah gempa tersebut berpotensi tsunami atau tidak,” katanya.
Adapun terkait jumlah sensor gempa di Kaltara yang masih terbatas, Khilmi memastikan BMKG tetap mampu mendeteksi kejadian gempa dan memberikan informasi resmi kepada masyarakat. Namun ia mengakui penambahan sensor akan sangat membantu meningkatkan kualitas data yang diterima.
Ia juga mengakui keterbatasan anggaran menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pengembangan jaringan sensor gempa di Indonesia. Namun pihaknya tidak mengetahui secara pasti besaran biaya yang dibutuhkan untuk pengadaan satu unit sensor karena seluruh pengadaan dilakukan langsung oleh pemerintah pusat.
“Kami tentu selalu mengusulkan penambahan alat. Tetapi penentuan pemasangan berada di pusat karena harus mempertimbangkan prioritas nasional dan kemampuan anggaran yang tersedia. Kami hanya menerima pemasangan dari pusat. Untuk anggaran pengadaan kami tidak bisa memastikan karena bukan kami yang melakukan pengadaan,” terangnya.
Meski aktivitas kegempaan di Kaltara relatif rendah, Khilmi mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana alam. Menurutnya, keberadaan wilayah yang berbatasan dengan laut tetap membuat kesiapsiagaan menjadi hal penting.
“Kalau melihat peta kejadian gempa nasional, Kalimantan memang termasuk wilayah dengan frekuensi paling rendah. Namun bukan berarti kita tidak perlu waspada. Kesiapsiagaan tetap harus dilakukan karena bencana bisa terjadi kapan saja,” pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT