TARAKAN – Ketersediaan alat pemantau gempa bumi di Kalimantan Utara (Kaltara) masih jauh dari kondisi ideal. Hingga saat ini, wilayah yang terdiri dari lima kabupaten dan kota tersebut baru memiliki satu sensor gempa yang berada di Kota Tarakan. Kondisi ini membuat pendeteksian gempa belum dapat berjalan maksimal di seluruh wilayah Kaltara.
Kepala Stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tarakan, Muhammad Sulam Khilmi mengatakan, keterbatasan jumlah sensor bukan karena tidak adanya usulan penambahan alat. Menurutnya, pemasangan jaringan pemantauan gempa secara nasional dilakukan berdasarkan skala prioritas wilayah yang memiliki tingkat aktivitas kegempaan lebih tinggi.
“Untuk di Kaltara kami mempunyai satu sensor gempa yang berada di Tarakan. Alat ini sudah cukup lama terpasang. Namun secara keseluruhan memang jumlah sensor gempa di Indonesia masih kurang jika dibandingkan dengan luas wilayah yang harus dipantau,” ujarnya, Selasa (9/6).
Menurut Khilmi, BMKG terus berupaya memperluas jaringan pemantauan gempa di berbagai daerah. Namun pemasangan alat dilakukan dengan mempertimbangkan tingkat kerawanan dan frekuensi kejadian gempa di suatu wilayah. Ia menjelaskan Kalimantan, termasuk Kaltara, tergolong daerah dengan aktivitas kegempaan yang relatif rendah dibandingkan sejumlah wilayah lain di Indonesia seperti Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara hingga wilayah barat Sumatera.
“Karena Kalimantan bukan wilayah yang signifikan frekuensi gempanya, maka kerapatan sensor gempa diprioritaskan untuk daerah-daerah yang aktivitas kegempaannya tinggi. Memang kita sesekali merasakan gempa di Tarakan, tetapi dibandingkan daerah lain di Indonesia jumlah kejadiannya relatif lebih sedikit,” urainya.
"Satu sensor untuk seluruh Kaltara masih jauh dari kebutuhan ideal. Semakin banyak sensor yang terpasang maka semakin cepat dan akurat pula data yang dihasilkan ketika terjadi gempa bumi," jelasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT