Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Pelemahan Rupiah Berdampak pada Harga Kebutuhan di Kaltara

Zakaria RT • Selasa, 9 Juni 2026 | 16:38 WIB
Akademisi Ekonomi UBT Kaltara, Dr. Margiyono, S.E., M.Si. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
Akademisi Ekonomi UBT Kaltara, Dr. Margiyono, S.E., M.Si. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN - Terjadinya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dalam 1 bulan terakhir menimbulkan efek domino pada harga kebutuhan hidup masyarakat. Hal itu lantaran sebagian besar komoditi Indonesia masih sangat bergantung pada impor. Alhasil pelemahan rupiah memukul harga kebutuhan masyarakat. Selain mempengaruhi harga kebutuhan sehari-hari pelemahan rupiah juga berdampak pada terjadinya inflasi lantaran meningkatkan kebutuhan rupiah.

Akademisi Ekonomi dari Universitas Borneo Tarakan (UBT) Dr Margiyono S.E, M.Si mengakui melemahnya rupiah membuat sejumlah komoditas kebutuhan rumah tangga hingga produk otomotif, mengalami kenaikan harga yang dinilai berkaitan langsung dengan melemahnya mata uang nasional.

"Terlalu naif kalau kita mengatakan pelemahan rupiah tidak berdampak langsung pada masyarakat. Bahkan masyarakat yang paling merasakan dampak dari pelemahan rupiah. Kemarin saya baca berita di Sebatik Kabupaten Nunukan sejumlah pedagang mulai melakukan penyesuaian harga akibat meningkatnya biaya pengadaan barang impor. Minyak goreng kemasan asal Malaysia yang sebelumnya dijual sekitar Rp 22 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp 25 ribu. Susu kental manis impor yang sebelumnya Rp 14 ribu per kaleng meningkat menjadi Rp 17 ribu, sementara mi instan impor yang biasa dijual Rp 6 ribu kini mencapai Rp 7.500 per bungkus," ujarnya, Selasa (9/6).

"Begitu juga dengan harga bidang otomotif kita bisa rasakan sendiri di Tarakan harga onderdil, oli mengalami kenaikan. Ini karena sebagian besar kebutuhan kita masih sangat bergantung pada negara lain. Jadi menguatkannya dollar terhadap rupiah otomatis meningkatkan harga komoditas tersebut karena transaksi impor kita menggunakan dollar sebagai alat transaksi internasional," sambungnya.

Ia menilai kondisi tersebut merupakan konsekuensi yang sulit dihindari ketika rupiah mengalami tekanan berkepanjangan. Menurutnya, wilayah perbatasan seperti Nunukan dan Sebatik merupakan daerah yang paling cepat merasakan dampak perubahan kurs karena sebagian kebutuhan masyarakat masih dipenuhi dari barang-barang yang didatangkan dari luar negeri.

“Daerah perbatasan sangat sensitif terhadap perubahan kurs karena banyak produk konsumsi sehari-hari yang berasal dari luar negeri. Ketika rupiah melemah, harga barang impor otomatis menjadi lebih mahal dan biaya tambahan itu pada akhirnya dibebankan kepada konsumen,” ungkapnya.

Kendati demikian, ia mengakui saat ini pemerintah terus bekerja keras untuk mengembalikan Marwah rupiah. Lanjutnya upaya tersebut dapat terlihat dari berbagai kebijakan moneter dan fiskal yang ditempuh pemerintah maupun Bank Indonesia (BI) seharusnya mampu memberikan dukungan terhadap penguatan mata uang nasional.

Ia membeberkan, pada Mei 2026, BI diketahui menaikkan suku bunga acuan dari 4,75 persen menjadi 5,25 persen atau naik 50 basis poin. Kebijakan tersebut tergolong agresif karena umumnya kenaikan suku bunga hanya dilakukan sebesar 25 basis poin. Bahkan dalam Rapat Dewan Gubernur terbaru, BI kembali menaikkan suku bunga menjadi 5,5 persen atau bertambah 25 basis poin.

"Pemerintah berbagai upaya untuk menaikan nilai tukar rupiah, upaya itu salah satunya menaikan suku bunga untuk menarik arus modal masuk atau capital inflow sekaligus menahan arus modal keluar atau capital outflow. Dalam teori ekonomi moneter, langkah ini biasanya mampu meningkatkan permintaan terhadap rupiah sehingga nilai tukar menjadi lebih kuat.

“Kalau bunga naik, modal asing biasanya lebih tertarik masuk ke Indonesia karena imbal hasilnya lebih tinggi. Di sisi lain modal dalam negeri juga cenderung bertahan. Teorinya, permintaan terhadap rupiah meningkat sehingga nilai tukarnya menguat,” katanya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
#rupiah melemah #tarakan #kaltara #uang #ekonomi