TARAKAN – Rendahnya motivasi anak untuk kembali bersekolah dan ketergantungan keluarga terhadap penghasilan anak, menjadi tantangan utama dalam penjaringan peserta Program Sekolah Rakyat di Kota Tarakan.
Ketua Tim Program Keluarga Harapan (PKH) Dinas Sosial (Dinsos) Tarakan, Fadly mengatakan, sejumlah anak yang masuk sasaran program selama ini turut membantu perekonomian keluarga melalui berbagai pekerjaan serabutan. Kondisi tersebut membuat sebagian keluarga harus mempertimbangkan kembali ketika anak diajak melanjutkan pendidikan.
“Banyak anak yang selama ini ikut membantu ekonomi keluarganya mencari penghasilan dari pekerjaan serabutan. Ketika mereka kembali bersekolah, keluarga tentu harus memikirkan dampaknya terhadap ekonomi rumah tangga,” katanya, Sabtu (6/6).
Selain faktor ekonomi, rendahnya motivasi sebagian anak untuk kembali ke bangku sekolah juga menjadi persoalan tersendiri. Petugas menemukan beberapa anak yang telah lama meninggalkan dunia pendidikan sehingga kehilangan minat untuk kembali belajar,” sambungnya.
Menurut Fadly, dalam sejumlah kasus terdapat orang tua yang mendukung anaknya kembali bersekolah. Namun, tidak sedikit anak yang justru menolak karena sudah terlalu lama berada di luar lingkungan pendidikan dan merasa lebih nyaman bekerja untuk memperoleh penghasilan.
“Kondisi ini membuat petugas kami harus melakukan pendekatan lebih intensif agar anak memahami manfaat pendidikan bagi masa depannya. Tidak semua orang tua berat hati melepas anaknya bersekolah kembali, tapi ada juga orang tua yang mendukung anaknya kembali sekolah,” jelasnya.
“Tapi anaknya sudah tidak memiliki motivasi karena terlalu lama tidak bersekolah dan sudah menikmati mencari nafkah. Ini juga menjadi tantangan yang kami hadapi saat melakukan pendataan,” sambungnya.
Ia mengungkapkan, karakteristik Kota Tarakan yang memiliki aktivitas ekonomi relatif lebih baik dibandingkan sejumlah daerah lain turut memengaruhi proses penjaringan peserta. Jumlah anak putus sekolah akibat kendala biaya pendidikan tidak sebanyak yang ditemukan di daerah dengan tingkat kemiskinan lebih tinggi.
Karena itu, petugas harus bekerja lebih aktif untuk menemukan calon siswa yang benar-benar memenuhi kriteria Program Sekolah Rakyat. Koordinasi dengan kelurahan, ketua RT, tokoh masyarakat hingga jaringan pendamping sosial terus dilakukan guna memperluas jangkauan pendataan.
Meski jumlah peserta yang berhasil dijaring masih jauh dari target, Dinsos Tarakan tetap optimistis kuota sebanyak 270 siswa dapat terpenuhi sebelum batas akhir penjaringan pada akhir Juni 2026.
“Kami masih terus bergerak di lapangan dan berkoordinasi dengan berbagai pihak. Mudah-mudahan sampai akhir Juni nanti kuota yang tersedia bisa terpenuhi sehingga semakin banyak anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan melalui Program Sekolah Rakyat,” pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT