TARAKAN - Harapan menghadirkan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem melalui Program Sekolah Rakyat di Tarakan, masih dihadapkan pada tantangan penjaringan peserta didik. Hingga awal Juni 2026, jumlah calon siswa yang berhasil didata belum mencapai setengah dari total kuota yang disiapkan pemerintah.
Ketua Tim Program Keluarga Harapan (PKH) Dinas Sosial (Dinsos) Tarakan, Fadly mengatakan, proses penjaringan telah berlangsung sejak minggu kedua Mei dan akan berakhir pada akhir Juni mendatang. Dari hasil pendataan sementara, baru 102 calon siswa yang berhasil terjaring untuk mengikuti program tersebut.
“Data yang sudah masuk sampai saat ini sebanyak 102 calon siswa. Terdiri dari 62 anak jenjang SD, 25 anak SMP, dan 15 anak SMA. Jumlah itu masih jauh dari kuota yang disediakan sebanyak 270 siswa. Nantinya, para peserta didik akan ditempatkan dalam sembilan rombongan belajar dengan kapasitas masing-masing 30 siswa," ujarnya, Sabtu (6/6).
Dikatakannya, program Sekolah Rakyat sendiri diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang masuk kategori desil 1 dan desil 2 berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Sehingga kata dia, proses penjaringan tidak hanya dilakukan melalui pendaftaran, tetapi juga dengan pendataan langsung ke lapangan.
"Untuk menemukan calon peserta yang memenuhi kriteria cukup sulit, jadi kami melibatkan pendamping PKH dan tenaga kesejahteraan sosial masyarakat. Mereka mendatangi rumah-rumah warga untuk melakukan asesmen kondisi keluarga sekaligus mencari anak-anak yang putus sekolah maupun yang berisiko tidak melanjutkan Pendidikan,” ucapnya.
“Dalam upaya itu, petugas menemukan berbagai kendala yang membuat proses penjaringan berjalan tidak mudah. Salah satu tantangan terbesar berasal dari kondisi ekonomi keluarga yang selama ini masih bergantung pada kontribusi anak dalam membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga," jelasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT