TARAKAN - Di tengah berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi masyarakat pesisir, budidaya rumput laut masih menjadi salah satu sektor yang mampu menopang penghidupan ratusan keluarga di Kota Tarakan. Komoditas unggulan perikanan ini tidak hanya menjadi sumber pendapatan bagi pembudidaya, tetapi juga menggerakkan aktivitas ekonomi lain yang melibatkan pekerja harian, pengikat bibit, pengepul hingga sektor transportasi pengiriman.
Saat ini, Dinas Perikanan Tarakan mencatat produksi rumput laut masih berada pada angka yang cukup tinggi. Dalam kondisi kering, produksi rata-rata rumput laut di Kota Tarakan mencapai sekitar 32 ton per tahun, sementara produksi bulanan berkisar antara 3.000 hingga 3.500 ton. Jumlah tersebut bahkan mampu memenuhi kebutuhan pengiriman hingga tiga sampai empat kontainer dalam satu kali pengiriman.
Kepala Bidang Budidaya Perikanan, Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perikanan Tarakan, Husna Ersant Dirgantara mengatakan, hingga saat ini harga rumput laut relatif stabil meskipun terjadi dinamika perdagangan internasional yang berdampak pada permintaan ekspor. Menurutnya, harga rumput laut dalam kondisi lembab saat ini berada di kisaran Rp 8.000 hingga Rp 10.000 per kilogram. Sementara untuk rumput laut kering, harga jual mencapai Rp12.000 hingga Rp13.000 per kilogram. Adapun rumput laut basah dibeli dengan harga sekitar Rp 1.500 per kilogram.
“Kalau harga stabil saja, tetapi jumlah ekspor ada sedikit penurunan karena adanya perang dagang Cina, dan tujuan ekspor rumput laut kita ke Cina. Tetapi kita sebagai daerah pemasok, kalau ekspor dari Makassar dan Surabaya,” ujarnya, Selasa (2/6).
Ia menjelaskan, meskipun Tarakan bukan daerah pengekspor langsung, namun daerah ini memiliki peran penting sebagai pemasok bahan baku rumput laut untuk pasar ekspor. Sebagian besar hasil produksi dari Tarakan terlebih dahulu dikirim ke Makassar dan Surabaya sebelum akhirnya diekspor ke luar negeri.
Lanjutnya, saat ini kondisi pasar global yang mengalami perlambatan akibat perang dagang dan geopolitik turut mempengaruhi volume permintaan. Kendati demikian, harga di tingkat pembudidaya masih tergolong stabil sehingga belum terlalu berdampak terhadap pendapatan petani.
"Saat ini ada sekitar 433 pembudidaya rumput laut yang tergabung dalam kelompok-kelompok budidaya di Kota Tarakan. Tapi kalau dihitung secara keseluruhan, termasuk pekerja lapangan, pengikat bibit, tenaga panen hingga pemborong, jumlah masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor ini diperkirakan mencapai sekitar 1.000 orang," terangnya.
Lanjutnya, besarnya jumlah masyarakat yang bergantung pada komoditas tersebut membuat pemerintah daerah terus berupaya menjaga keberlangsungan usaha budidaya rumput laut, baik melalui pembinaan teknis maupun pengawasan terhadap tata niaga.
Sehingga kata dia, sebagai salah satu langkah untuk menjaga stabilitas harga di tingkat petani, pemerintah juga menyiapkan pembangunan fasilitas resi gudang di kawasan Jalan Binalatung, Kelurahan Pantai Amal. Fasilitas tersebut nantinya tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan hasil panen, tetapi juga sebagai lokasi penjemuran rumput laut.
“Rencana terus berproses. Dengan adanya sistem resi gudang dirancang sebagai mekanisme tunda jual yang memungkinkan pembudidaya tidak harus menjual hasil panen ketika harga pasar sedang rendah. Dengan sistem tersebut, rumput laut dapat disimpan terlebih dulu sampai harga kembali membaik," jelasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT