TARAKAN - Sebagai upaya memastikan kesehatan dan keamanan daging kurban yang dibagikan kepada masyarakat, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Tarakan memastikan hewan kurban di Tarakan telah melalui pemeriksaan ketat saat masuk ke daerah. Pemeriksaan tersebut dilakukan secara berlapis-lapis dan berulang untuk mencegah masuknya penyakit. Apalagi pihaknya mengakui isu cacing hati (fasciola) pada sapi cukup diwaspadai masyarakat.
Medik Veteriner Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan pada DKPP Tarakan, drh Richard Alfonsus Saroha menjelaskan, salah satu fokus pemeriksaan berada pada organ hati yang rentan ditemukan cacing hati atau parasit.
“Kalau cacing hati biasanya ada di saluran-saluran pada hati. Makanya bagian itu kami periksa betul, termasuk lubang-lubang salurannya. Sejauh ini yang kami cek aman dan tidak ditemukan kelainan,” ujarnya, Rabu (27/5).
Selain hati, petugas juga memeriksa paru-paru untuk memastikan tidak ada radang maupun infeksi yang ditandai munculnya nanah pada organ tersebut. Menurut Richard, organ yang menunjukkan tanda kelainan tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi masyarakat.
“Paru-paru juga dicek apakah ada pneumonia atau radang. Biasanya kalau ada kelainan akan terlihat ada nanah. Kalau ditemukan seperti itu tentu organnya tidak boleh dibagikan,” katanya.
Pemeriksaan turut dilakukan pada bagian jantung dan organ lainnya guna memastikan tidak terdapat tanda penyakit maupun kelainan fisik. Ia menyebut beberapa kondisi sebenarnya dapat dikenali masyarakat awam melalui perubahan warna maupun bentuk organ.
“Kalau ada kelainan biasanya orang awam juga bisa lihat dari bentuk dan warnanya yang berbeda. Tahun lalu sempat ada temuan cacing hati, tapi yang dibuang hanya bagian hati yang terinfeksi, sementara dagingnya masih aman,” jelasnya.
Richard menerangkan, cacing hati umumnya akan mati ketika dimasak dengan suhu tinggi. Namun demikian, dari sisi keamanan pangan, organ yang terinfeksi tetap tidak dianjurkan untuk dikonsumsi. “Kalau dimasak sebenarnya organisme seperti cacing itu biasanya mati karena terkena panas. Tapi dari sisi keamanan pangan tentu tidak baik kalau kita mengonsumsi sesuatu yang memang sudah terindikasi tidak sehat,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar memperhatikan kebersihan dalam penanganan daging kurban. Menurutnya, gangguan kesehatan seperti sakit perut lebih sering dipicu pencemaran bakteri akibat proses penanganan yang kurang higienis dibanding keberadaan cacing hati itu sendiri.
“Kalau sakit perut biasanya lebih banyak karena kontaminasi bakteri akibat penanganan daging yang kurang bersih. Jadi kebersihan selama proses pemotongan sampai distribusi juga penting diperhatikan,” tutupnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT