Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Lahan Gambut Masih Jadi Pemicu Karhutla di Tarakan, Api Bisa Bertahan di Bawah Permukaan

Asrullah RT • Rabu, 20 Mei 2026 | 21:04 WIB
FAKTOR : Gambut di kawasan Pantai Amal, Tarakan, menjadi salah satu faktor utama tingginya risiko karhutla. 
FAKTOR : Gambut di kawasan Pantai Amal, Tarakan, menjadi salah satu faktor utama tingginya risiko karhutla. 

TARAKAN – Karakteristik lahan gambut di kawasan Pantai Amal, Tarakan, menjadi salah satu faktor utama tingginya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Api tidak hanya membakar permukaan, tetapi juga dapat bertahan di bawah tanah sehingga sulit dipadamkan.

Kapospol Pantai Amal, IPDA M. Arsyad menjelaskan, sebagian besar wilayah Pantai Amal didominasi lahan gambut, terutama di kawasan Binalatung hingga Andulung dan arah Juata Laut. “Kalau di Amal itu rata-rata gambut. Yang paling tebal itu daerah Binalatung sampai Andulung,” ujarnya.

Menurutnya, karakteristik tersebut membuat kebakaran lebih sulit ditangani. Bahkan, api yang terlihat padam di permukaan sering kali masih menyala di bawah tanah dan berpotensi muncul kembali. “Kadang apinya sudah kelihatan mati, tapi di bawah masih hidup. Itu yang susah,” jelasnya.

Ia memperkirakan hampir separuh wilayah Pantai Amal termasuk zona rawan karhutla, dengan titik-titik yang sering terdampak berada di RT 2, RT 3, RT 6, RT 7, RT 8, RT 10, RT 11, RT 12 hingga RT 14 dan RT 15.

Meski sebagian besar lokasi kebakaran berada di area kebun dan jauh dari permukiman, potensi kerusakan tetap besar jika tidak segera ditangani. Untuk mengantisipasi hal tersebut, masyarakat didorong menyiapkan sumber air sederhana di sekitar lahan, seperti penampungan air, parit, atau kolam sebagai langkah awal pemadaman.

Namun, kondisi ini juga memiliki keterbatasan, terutama saat musim kemarau panjang. Ketersediaan air kerap menjadi kendala ketika tidak turun hujan dalam waktu cukup lama.

“Kalau sudah satu minggu sampai sepuluh hari tidak hujan, penampungan air itu juga bisa kering,” ungkap Arsyad.

Selain itu, upaya pengungkapan pelaku pembakaran lahan juga masih menjadi tantangan tersendiri. Minimnya saksi membuat aparat kesulitan mengidentifikasi pelaku saat kebakaran terjadi.

“Biasanya setelah terlihat asap baru diketahui ada kebakaran. Hambatannya memang tidak ada saksi yang melihat langsung,” tutupnya. (zar/jnr)

Editor : Januriansyah RT
#karhutla #tarakan #kebakaran hutan #kebakaran