TARAKAN - Gelombang protes pengemudi transportasi online di Kota Tarakan dipastikan akan memuncak pada 20 Mei mendatang. Ratusan pengemudi transportasi online yang tergabung dalam berbagai komunitas dan organisasi pengemudi, berencana menggelar aksi damai di depan kantor DPRD Tarakan dengan membawa sejumlah tuntutan terkait tarif, regulasi transportasi online hingga perlindungan ketenagakerjaan.
Saat dikonfirmasi, Ketua DPD Serikat Pengemudi Online Indonesia (SePOI) Kaltara, Misyadi mengatakan, aksi tersebut diperkirakan diikuti sekitar 100 pengemudi transportasi online, baik roda dua maupun roda empat.
Menurutnya, aksi dilakukan sebagai bentuk penyampaian aspirasi atas berbagai persoalan yang selama ini dirasakan para driver di lapangan. Adapun, dalam aksi nanti, pihaknya akan membawa empat tuntutan nasional yang selama ini menjadi persoalan utama transportasi online di berbagai daerah.
Tuntutan tersebut mulai dari kenaikan tarif ojek online, kehadiran regulasi pengantaran barang dan makanan, ketetapan tarif taksi online roda empat yang dinilai lebih adil, hingga pembentukan undang-undang khusus transportasi online.
“Sampai saat ini pengemudi online masih bekerja dalam situasi regulasi yang belum sepenuhnya memberikan kepastian hukum terhadap hubungan antara aplikator dan mitra pengemudi. Kondisi itu berdampak langsung terhadap perlindungan kerja maupun kesejahteraan driver," ujarnya, Senin (18/5).
“Kami ingin ada regulasi yang lebih jelas terkait transportasi online. Selama ini banyak aturan yang masih belum memberikan kepastian, baik soal tarif maupun perlindungan untuk driver. Selain tuntutan nasional, kami para driver online di Tarakan juga membawa sejumlah tuntutan daerah yang mendesak untuk segera ditindaklanjuti pemerintah maupun pihak aplikator. Salah satunya terkait pembatasan penerimaan driver baru yang sudah terlalu banyak dan berdampak pada pendapatan pengemudi lama," sambungnya.
Menurutnya, jumlah driver yang terus bertambah tidak sebanding dengan jumlah order di lapangan. Akibatnya persaingan antar pengemudi semakin tinggi dan pendapatan harian terus mengalami penurunan. Selain itu, pihaknya juga meminta penghapusan program tarif hemat yang diterapkan aplikator. Program tersebut dinilai menjadi salah satu penyebab turunnya penghasilan driver karena tarif perjalanan menjadi lebih murah dibanding tarif normal.
“Kami juga meminta ada pembatasan penerimaan driver baru. Karena sekarang jumlah driver terus bertambah sementara order tidak bertambah signifikan. Akhirnya pendapatan teman-teman semakin turun.Banyak teman-teman driver merasa pendapatan makin turun. Karena itu kami ingin ada perhatian terhadap sistem tarif dan perlindungan bagi pengemudi online,” katanya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT