Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Rupiah Dinilai Tak Cukup Diselamatkan dengan Intervensi Jangka Pendek, Ini Kata Akademisi Kaltara

Zakaria RT • Kamis, 14 Mei 2026 | 21:05 WIB
Akademisi Ekonomi UBT Kaltara, Dr Margiyono S.E, M.Si,. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
Akademisi Ekonomi UBT Kaltara, Dr Margiyono S.E, M.Si,. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN – Penguatan nilai tukar rupiah tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan jangka pendek dari Bank Indonesia, diperlukan langkah struktural dan kebijakan jangka panjang untuk memperkuat fundamental ekonomi nasional agar rupiah lebih stabil.

Hal tersebut disampaikan Akademisi Ekonomi dari Universitas Borneo Tarakan (UBT), Dr. Margiyono, S.E., M.Si., di mana berbagai instrumen yang selama ini digunakan Bank Indonesia seperti intervensi pasar, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) maupun Non Deliverable Forward (NDF) memang mampu menahan gejolak harian nilai tukar. Namun, kebijakan tersebut dinilai hanya bersifat sementara dan belum menyentuh akar persoalan utama pelemahan rupiah.

“Kondisi ini membuat kebijakan jangka pendek seperti intervensi pasar, SRBI maupun NDF hanya mampu meredam gejolak harian atau volatility nilai tukar rupiah. Namun langkah tersebut belum cukup untuk memperkuat rupiah secara mendasar,” ujarnya, Kamis (14/5).

Menurutnya, persoalan utama yang membuat rupiah terus berada dalam tekanan adalah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor, terutama untuk kebutuhan bahan bakar minyak (BBM), mesin industri, perangkat elektronik, besi baja hingga produk plastik.

Ia menjelaskan, tingginya kebutuhan impor secara otomatis membuat permintaan terhadap dolar Amerika Serikat terus meningkat. Akibatnya, tekanan terhadap nilai tukar rupiah sulit dihindari selama kebutuhan impor belum mampu ditekan secara signifikan.

Karena itu, Margiyono mendorong pemerintah bersama Bank Indonesia memperkuat industri substitusi impor agar kebutuhan barang dari luar negeri dapat dikurangi secara bertahap. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar sekaligus memperkuat daya tahan ekonomi nasional.

“Kalau impor BBM, mesin industri, elektronik dan besi baja bisa ditekan, maka kebutuhan dolar kita juga akan turun. Ketika kebutuhan dolar menurun, maka rupiah bisa lebih kuat,” katanya.

Selain itu, ia juga menilai percepatan transformasi energi dan industrialisasi nasional menjadi langkah strategis yang harus segera dilakukan pemerintah. Salah satunya melalui penguatan kapasitas kilang minyak dalam negeri serta percepatan penggunaan kendaraan listrik untuk menekan impor BBM.

Menurut Margiyono, penguatan rupiah tidak cukup hanya dilakukan melalui kebijakan moneter sesaat. Dibutuhkan konsistensi kebijakan ekonomi nasional yang mampu memperkuat struktur industri dan mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

“Harus ada kebijakan yang konsisten dan berkelanjutan. Jadi bukan hanya meredam gejolak sesaat, tapi bagaimana memperkuat struktur ekonomi nasional agar kebutuhan impor turun dan rupiah menjadi lebih kuat dalam jangka panjang,” pungkasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
#penguatan rupiah #tarakan #bank indonesia #rupiah #keuangan