Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Rupiah Melemah ke Rp 17 Ribu, Akademisi di Kaltara Ini Soroti Ketergantungan Impor Indonesia

Zakaria RT • Kamis, 14 Mei 2026 | 20:50 WIB
Akademisi Ekonomi UBT Kaltara, Dr Margiyono S.E, M.Si,. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
Akademisi Ekonomi UBT Kaltara, Dr Margiyono S.E, M.Si,. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menjadi pukulan sekaligus kekhawatiran bagi ekonomi Indonesia. Hal tersebut lantaran nilai mata uang sangat bergantung pada pasar dagang serta memicu kenaikan harga barang impor (inflasi impor) dan meningkatkan biaya produksi bagi industri yang bergantung pada bahan baku luar negeri. Oleh sebab itulah pelemahan rupiah dinilai menjadi ancaman besar bulan hanya dari segi ekonomi maupun dari segi kesetabilan politik dan kondusifitas suatu negara.

Akademisi Ekonomi dari Universitas Borneo Tarakan (UBT) Dr Margiyono S.E, M.Si  mengatakan, depresiasi rupiah saat ini memang memunculkan kekhawatiran karena akan meningkatkan biaya impor berbagai kebutuhan strategis nasional. Menurutnya, sektor yang paling terdampak adalah produk yang masih bergantung pada bahan baku dan mesin dari luar negeri.

“Turunnya nilai mata uang rupiah terhadap dolar ini memang dalam konteks tertentu harus diwaspadai karena akan mengakibatkan impor menjadi lebih mahal. Terutama untuk produk-produk yang berkaitan dengan bahan baku atau mesinnya yang memang masih impor dari negara lain,” ujarnya, Kamis (14/5).

Ia menjelaskan, secara nominal nilai tukar rupiah saat ini memang telah menyentuh kisaran Rp 17 ribu per dolar AS, bahkan sempat bergerak di atas angka tersebut. Namun, kondisi tersebut tidak bisa disamakan sepenuhnya dengan krisis moneter 1998. Menurutnya, pada tahun 1998 rupiah memang sempat berada di level Rp 16 ribu per dolar AS, tetapi saat itu fundamental ekonomi Indonesia sangat rapuh. Pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi hingga minus 10 persen, inflasi mendekati 60 persen dan cadangan devisa sangat rendah.

“Kalau tahun 1998 pertumbuhan ekonomi kita negatif, inflasi sangat tinggi dan cadangan devisa rendah. Sementara sekarang pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sekitar 5 persen lebih, inflasi hanya sekitar 2 sampai 3 persen dan cadangan devisa kita jauh lebih besar dibanding saat krisis moneter,” katanya.

Margiyono menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini secara fundamental masih cukup kuat. Ia menyebut cadangan devisa Indonesia kini mencapai sekitar 146 miliar dolar AS atau lebih dari 10 kali lipat dibandingkan saat krisis 1998. Selain itu, inflasi inti juga masih terkendali sehingga situasi ekonomi nasional dinilai belum berada dalam kondisi krisis seperti era reformasi awal.

"Sebenarnya penguatan dolar AS tidak hanya terjadi pada rupiah tapi hampir pada seluruh mata uang dunia seperti yen Jepang, ringgit Malaysia, peso hingga yuan Tiongkok. Hal itu dipengaruhi persepsi global bahwa dolar masih menjadi mata uang paling aman untuk menyimpan aset atau safe haven. Seluruh dunia mempersepsikan bahwa dolar itu kuat. Karena itu hampir semua mata uang membeli dolar. Rupiah membeli dolar, yen membeli dolar, yuan membeli dolar, semuanya membeli dolar. Ketika seluruh mata uang dunia membeli dolar, maka otomatis dolar menguat,” jelasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
#rupiah melemah #rupah #tarakan #uang #ekonomi