TARAKAN - Perkembangan ekonomi digital mulai mengubah pola kerja masyarakat di Kota Tarakan. Di tengah terbatasnya lapangan pekerjaan formal, banyak warga khususnya anak muda kini memilih mencari penghasilan melalui sektor informal berbasis internet dan media sosial. Kondisi itu dinilai ikut menekan angka pengangguran terbuka meski tidak seluruhnya tercatat dalam sistem ketenagakerjaan formal.
Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (DPTK) Tarakan, Agus Sutanto mengatakan, perubahan pola kerja masyarakat saat ini membuat ukuran pengangguran tidak lagi bisa dilihat hanya dari sektor formal semata. Menurutnya, banyak masyarakat yang sebenarnya tetap bekerja dan memiliki penghasilan meski tidak terdata sebagai pekerja perusahaan maupun instansi resmi.
Ia menyebut perkembangan teknologi digital membuka ruang ekonomi baru yang cukup besar bagi masyarakat. Berbagai profesi berbasis digital kini mulai banyak ditekuni generasi muda Tarakan sebagai sumber penghasilan mandiri.
“Sekarang ada yang jadi konten kreator, jualan online, desain grafis, editing video, admin media sosial dan berbagai pekerjaan digital lainnya. Itu semua juga bentuk pekerjaan dan menghasilkan, meskipun tidak tercatat sebagai pekerja formal,” ujarnya, Rabu (13/5).
Menurutnya, fenomena tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat sebagian masyarakat tidak lagi sepenuhnya bergantung pada lowongan kerja formal. Banyak warga kini memilih membangun usaha sendiri maupun bekerja secara fleksibel melalui platform digital yang terus berkembang.
Meski demikian, pemerintah daerah tetap berupaya memfasilitasi pencari kerja melalui berbagai program penempatan tenaga kerja. Salah satu yang selama ini rutin dilakukan adalah pelaksanaan job fair atau bursa kerja yang mempertemukan langsung perusahaan dengan masyarakat pencari kerja.
Namun ia mengakui, program tersebut belum dapat dilaksanakan tahun ini akibat keterbatasan anggaran daerah. Kondisi tersebut membuat fasilitasi penempatan kerja secara langsung sementara belum bisa berjalan maksimal.
“Job fair itu memang bagian dari tugas kami untuk mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan. Tetapi tahun ini belum ada anggaran, sehingga fasilitasi secara langsung masih terbatas dan belum bisa dilaksanakan,” katanya.
Ia menegaskan, persoalan pengangguran tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada dinas tenaga kerja. Penanganan masalah tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, dunia usaha hingga investor agar pembukaan lapangan kerja baru dapat terus tumbuh di Tarakan.
Menurut Agus, investasi menjadi salah satu faktor paling penting dalam meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Semakin banyak sektor usaha berkembang, maka peluang kerja yang tersedia bagi masyarakat juga akan semakin besar.
“Ini bukan hanya tugas dinas tenaga kerja saja. Semua pihak harus terlibat, termasuk bagaimana mendorong investasi masuk supaya peluang kerja baru bisa terus bertambah dan masyarakat punya lebih banyak pilihan pekerjaan,” tegasnya.
Di tengah kondisi lapangan kerja formal yang masih terbatas, sektor informal dan ekonomi kreatif diperkirakan akan tetap menjadi penopang utama masyarakat dalam memperoleh penghasilan. Agus menilai, kondisi tersebut menunjukkan adanya perubahan struktur ekonomi masyarakat yang kini lebih fleksibel dan tidak lagi bertumpu pada satu jenis pekerjaan.
“Kondisinya sekarang memang begitu. Tidak semua orang masuk sektor formal, tetapi mereka tetap bekerja dan menghasilkan di sektor lain. Yang penting aktivitas ekonomi tetap bergerak, masyarakat tetap punya penghasilan, dan angka pengangguran bisa terus ditekan,” pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT