TARAKAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Tarakan mengintensifkan edukasi kepada masyarakat terkait penyakit yang ditularkan tikus, termasuk hantavirus dan leptospirosis. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan pemahaman publik agar mampu mengenali perbedaan keduanya serta melakukan pencegahan sejak dini.
Pengelola Program Surveilans Dinkes Tarakan, Irsal, SKM., MKM, menjelaskan, meski sama-sama ditularkan melalui tikus, kedua penyakit tersebut memiliki karakteristik berbeda.
Hantavirus ditularkan melalui urin, air liur, dan kotoran tikus yang dapat terhirup dalam bentuk partikel debu. Sementara leptospirosis umumnya ditandai dengan gejala khas berupa mata dan kulit menguning akibat gangguan fungsi ginjal.
“Kalau leptospirosis itu sampai matanya kuning, itu bedanya. Tapi penyebabnya sama-sama tikus,” katanya.
Ia mengungkapkan, leptospirosis merupakan penyakit yang berpotensi serius jika tidak segera ditangani. Infeksi ini dapat menyebabkan komplikasi hingga gagal ginjal.
“Kalau tidak ditangani cepat, bisa menyebabkan gagal ginjal karena menyerang ginjal,” jelasnya.
Gejala awal leptospirosis umumnya berupa demam, lemas, serta dapat disertai batuk dan pilek, sehingga kerap disalahartikan sebagai penyakit infeksi biasa. Sementara itu, untuk hantavirus, hingga kini belum ditemukan kasus di Tarakan. Namun, masyarakat tetap diminta waspada karena beberapa wilayah lain di Indonesia sudah melaporkannya.
Sebagai langkah antisipasi, Dinkes terus melakukan sosialisasi di wilayah berisiko dan memperkuat Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR). “Kami tetap melakukan sosialisasi dan surveilans aktif terkait penyakit-penyakit zoonosis,” pungkasnya. (zar/jnr)
Editor : Januriansyah RT