Tarakan - Media digital saat ini dinilai tidak lagi cukup hanya menyampaikan informasi secara formal. Di era media sosial dan video pendek, jurnalis juga dituntut mampu bercerita dengan pendekatan yang lebih humanis agar pesan yang disampaikan benar-benar sampai ke audiens.
Hal tersebut disampaikan Creative Editor Kumparan, Joshua Simanjuntak, saat membahas strategi konten kreatif dan human interest dalam penyampaian berita di platform digital.
Menurutnya, masyarakat Indonesia memiliki ketertarikan besar terhadap cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Karena itu, pendekatan jurnalistik kini tidak selalu harus berfokus pada solusi, tetapi juga menghadirkan media sebagai “teman” bagi masyarakat.
“Enggak selamanya jurnalis itu memberikan solusi, tapi bisa menjadi teman atau partner buat warga kota,” ujarnya.
Joshua menjelaskan, salah satu kekuatan konten humanis terletak pada detail-detail kecil yang mampu membangun empati penonton. Saat bertemu narasumber di lapangan, pendekatan natural dinilai jauh lebih menarik dibanding langsung menanyakan hal-hal yang bersifat template.
Ia mencontohkan pengalamannya saat berbincang dengan seorang penarik getek di Jakarta. Alih-alih langsung menanyakan penghasilan, dirinya memilih memulai obrolan santai sambil minum kopi bersama narasumber.
Menurutnya, cerita keseharian dan kehidupan personal justru lebih membuat audiens merasa dekat dibanding sekadar angka atau data formal.
“Empati ada di detail-detail kecil,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Joshua juga menegaskan bahwa perubahan tren media sosial membuat jurnalis perlu belajar teknik penyampaian ala content creator. Namun, hal tersebut bukan berarti mengubah jurnalis menjadi influencer.
“Kita enggak mau mengubah jurnalis jadi kreator, tapi meminjam cara kreator untuk menyampaikan informasi atau berita supaya lebih sampai ke audiens,” jelasnya.
Selain storytelling, ia juga membagikan teknik pengambilan video sederhana menggunakan kamera ultra wide atau mode 0,5 pada ponsel untuk menghasilkan visual yang lebih hidup dan natural saat liputan lapangan.
Teknik tersebut memungkinkan jurnalis bekerja sendiri namun tetap menghasilkan video yang dinamis, mulai dari pengambilan gambar over the shoulder hingga wawancara yang terasa lebih santai dan tidak kaku.
Menurut Joshua, adaptasi format video menjadi penting di tengah perubahan perilaku audiens yang kini lebih banyak mengonsumsi informasi lewat platform seperti TikTok dan Instagram Reels.
“Daripada tulisan bagus tapi enggak ada yang baca, kenapa enggak coba adaptasi ke format video,” pungkasnya. (Eru)