TARAKAN - Adanya wacana terhadap penghapus jurusan pendidikan menimbulkan perhatian besar masyarakat. Meski penghapusan tersebut diklaim menyelamatkan generasi mendatang lantaran dianggap tidak efektif, namun hal ini dinilai keliru oleh sebagian besar masyarakat, lantaran ilmu pendidikan dianggap menjadi dasar segala ilmu dan menjadi pondasi dari pendidikan.
Akademisi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Borneo Tarakan (UBT) Dr Suyadi S.S.,M.Ed menilai, cara pandang yang menempatkan pendidikan sebagai alat mencetak tenaga kerja dinilai menjadi ancaman serius bagi masa depan bangsa. Menurutnya melihat ilmu pendidikan tidak dapat dipersempit hanya untuk memenuhi kebutuhan industri semata, sebab kata dia, Ilmu Keguruan dan Pendidikan memiliki fungsi utama membangun intelektualitas, daya kritis, hingga kesadaran sosial masyarakat dalam mengawal arah kebijakan negara.
"Saya kira, pola pikir yang hanya melihat pendidikan dari sisi kebutuhan pasar kerja merupakan cara pandang yang terlalu sempit dan cenderung kapitalistik. Pendidikan tinggi seharusnya melahirkan manusia-manusia pemikir yang mampu memberikan solusi terhadap persoalan bangsa, bukan sekadar menjadi pekerja," ujarnya, Minggu (10/5).
“Berbicara masalah pendidikan tinggi itu tidak sesimpel itu. Pendidikan tinggi itu menciptakan intelektualitas yang mencakup kesadaran masyarakat untuk mengkritisi kebijakan pemerintah yang kurang tepat. Kalau perguruan tinggi diarahkan pada pemikiran kapitalisme seakan-akan hanya menciptakan pekerja, itu sama saja mengiring bangsa ini menjadi buruh,” sambungnya.
Ia mengatakan, pemikiran yang menempatkan pendidikan hanya untuk kebutuhan industri akan menghilangkan tradisi berpikir kritis di tengah masyarakat. Padahal, menurutnya, bangsa besar justru membutuhkan ruang-ruang akademik yang mampu melahirkan gagasan dan solusi bagi berbagai persoalan sosial, ekonomi hingga pemerintahan.
“Kalau berpikirnya kapitalisme begitu, ya kita tidak usah ada perguruan tinggi. Kita cukup buat balai pelatihan saja. Jadi bangsa ini tidak usah lagi mencari orang yang berpikir kritis, yang berani mengkritisi dan mencari solusi terhadap permasalahan bangsa,” ucapnya.
Suyadi juga menyinggung pentingnya pendidikan tinggi dalam menciptakan inovasi dan kreativitas di tengah masyarakat. Ia mengapresiasi adanya klarifikasi dari kementerian yang mendorong pembukaan program studi berbasis kreativitas dan inovasi, bukan sekadar mencetak lulusan pencari kerja.
“Doktrinnya itu bukan menciptakan pekerja, tetapi menciptakan lapangan kerja. Orang tidak harus bekerja di perusahaan atau kantor. Pendidikan harus melahirkan manusia yang mampu membuka peluang dan menyelesaikan persoalan di masyarakat,” katanya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT