TARAKAN - Menjelang Iduladha, stok MinyaKita di Kota Tarakan terus mengalami penurunan hingga mulai sulit ditemukan di sejumlah pasar dan toko ritel. Kondisi itu membuat Perum Bulog Regional Tarakan mengambil langkah antisipasi dengan mendatangkan minyak goreng premium, hal itu dilakukan guna menjaga ketersediaan pasokan minyak goreng di tengah tingginya permintaan masyarakat.
Kepala Perum Bulog Regional Tarakan, Zamahsyari Afsolin menerangkan, saat ini stok MinyaKita yang tersisa di gudang Bulog Tarakan hanya tinggal 203 kemasan. Jumlah tersebut jauh menurun dibanding stok beberapa waktu lalu yang sempat mencapai puluhan ribu liter pasca Idulfitri.
“Untuk antisipasi kekosongan, kami sudah memesan minyak goreng premium sebanyak satu kontainer. Saat ini masih dalam proses pengangkutan dari Tangerang ke Tarakan. Pengadaan minyak premium dilakukan agar masyarakat tetap memiliki pilihan minyak goreng dengan harga yang masih relatif terjangkau, di saat MinyaKita mulai sulit didapatkan. Kami berharap distribusi minyak premium tersebut bisa tiba di Tarakan sebelum Iduladha sehingga tidak terjadi kekosongan pasokan di tingkat pasar," ujarnya, Kamis (7/5).
Ia menjelaskan, Bulog Tarakan sebenarnya masih terus berupaya menambah stok MinyaKita dengan melakukan koordinasi ke Bulog pusat. Namun hingga kini belum ada kepastian terkait jumlah tambahan pasokan maupun jadwal pengiriman ke Tarakan.
Zamahsyari menyebut tingginya permintaan masyarakat menjadi faktor utama cepat habisnya stok MinyaKita di Tarakan, di mana harganya lebih murah dibanding minyak goreng premium membuat produk tersebut menjadi pilihan utama masyarakat, terutama bagi rumah tangga dan pelaku usaha kecil.
“Permintaan MinyaKita cukup tinggi karena harganya sangat terjangkau. Sehingga menjelang momen tertentu menjadi incaran masyarakat," urainya.
Ia mengungkapkan, setelah Idul Fitri lalu, pihaknya sempat memiliki stok sekitar empat kontainer atau setara kurang lebih 80 ribu liter MinyaKita. Namun dalam beberapa pekan terakhir, stok tersebut terus berkurang akibat tingginya penyerapan pasar.
Lanjutnya, kondisi itu mulai dirasakan langsung masyarakat. Di sejumlah pasar tradisional maupun toko ritel modern, MinyaKita kini semakin sulit ditemukan. Kalaupun tersedia, jumlahnya terbatas dan cepat habis dibeli warga.
"Menjelang hari besar keagamaan, kebutuhan minyak goreng masyarakat biasanya memang mengalami peningkatan cukup signifikan. Selain kebutuhan rumah tangga, permintaan juga datang dari pedagang makanan, pelaku UMKM hingga usaha kuliner yang membutuhkan minyak goreng dalam jumlah besar,” urainya.
“Tentu kami khawatir apabila tidak segera dilakukan penambahan pasokan, kelangkaan MinyaKita dapat memicu kenaikan harga minyak goreng di tingkat pasar. Karena itu, distribusi minyak premium yang saat ini dalam perjalanan diharapkan dapat menjadi solusi sementara menjaga stabilitas pasokan," jelasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT