TARAKAN – Meski inflasi Kalimantan Utara (Kaltara) pada April 2026 terbilang rendah, tekanan harga masih terjadi pada sejumlah komoditas, terutama sektor transportasi dan pangan.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kaltara, Hasiando Ginsar Manik mengungkapkan, kenaikan tarif angkutan udara dan laut menjadi penyumbang utama inflasi pada periode tersebut.
“Transportasi, khususnya angkutan udara dan laut, menjadi motor penggerak tekanan inflasi,” ujarnya.
Kenaikan tarif ini dipicu oleh meningkatnya biaya operasional penerbangan akibat kenaikan harga avtur global. Selain itu, terbatasnya frekuensi penerbangan pada sejumlah rute di tengah tingginya permintaan masyarakat turut memperkuat tekanan harga.
Selain sektor transportasi, kenaikan harga juga terjadi pada komoditas pangan seperti tomat dan bawang merah. Kondisi ini dipengaruhi oleh terbatasnya pasokan dari daerah sentra produksi, khususnya di Sulawesi, akibat cuaca yang kurang kondusif.
Meski demikian, tekanan inflasi berhasil diredam oleh penurunan harga pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, terutama emas perhiasan yang mengalami koreksi mengikuti harga emas global.
"Normalisasi harga pasca-Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri juga turut membantu menekan inflasi, ditandai dengan turunnya harga cabai rawit dan daging ayam ras," jelasnya.
Dari sisi wilayah, perkembangan inflasi menunjukkan variasi. Tanjung Selor mencatat inflasi 0,23 persen (mtm), Nunukan 0,04 persen (mtm), sementara Kota Tarakan justru mengalami deflasi sebesar -0,06 persen (mtm).
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun tekanan harga masih ada, pengendalian inflasi di Kaltara relatif efektif berkat keseimbangan antara kenaikan dan penurunan harga komoditas. (zar/jnr)
Editor : Januriansyah RT