TARAKAN – Upaya memperketat pengawasan kesehatan jemaah haji dan umrah terus dilakukan. Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas I Tarakan menerapkan sistem verifikasi berlapis berbasis digital guna mencegah pemalsuan sertifikat vaksin.
Ketua Tim Kerja 4 BKK Kelas I Tarakan, dr. Kristianto Adiwiharyanto, MKM mengungkapkan, penggunaan sertifikat vaksin elektronik (EICV) menjadi salah satu langkah strategis dalam meningkatkan keamanan data kesehatan jemaah.
“Dengan sistem elektronik, data jemaah terintegrasi sehingga lebih sulit untuk dipalsukan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebelumnya sertifikat vaksin dalam bentuk buku fisik atau ICV memiliki potensi disalahgunakan. Padahal, dokumen tersebut merupakan sertifikat kesehatan internasional yang memiliki standar ketat.
“ICV itu dokumen internasional. Kalau manual, ada potensi pemalsuan. Sekarang dengan digital, bisa kita kontrol,” tegasnya.
Selain itu, proses pemeriksaan juga dilakukan secara berlapis. Verifikasi awal dilakukan di daerah asal, kemudian dilanjutkan di embarkasi sebelum keberangkatan.
“Di Tarakan kita verifikasi, nanti di embarkasi seperti Balikpapan diperiksa lagi. Jadi tidak hanya sekali,” jelasnya.
Pemeriksaan berulang ini bertujuan memastikan seluruh jemaah benar-benar memenuhi syarat kesehatan, khususnya terkait vaksin meningitis. “Harapannya jemaah kita benar-benar aman dan siap secara kesehatan saat berangkat,” katanya.
Untuk mendukung sistem ini, petugas menggunakan aplikasi Sinkarkes sebagai alat monitoring dan verifikasi data. Sistem ini memungkinkan pengawasan dilakukan secara real time.
“Semua bisa dipantau melalui sistem, jadi lebih transparan dan akuntabel,” tambahnya.
Ia menegaskan, penerapan sistem digital ini juga telah mendapat pengakuan dari Arab Saudi, sehingga validitas data jemaah tidak diragukan. Dengan pengawasan yang semakin ketat, diharapkan tidak ada lagi celah bagi praktik pemalsuan maupun kelalaian administrasi kesehatan jemaah. (zar/jnr)
Editor : Januriansyah RT