TARAKAN – Pengawasan lalu lintas ternak di Kalimantan Utara (Kaltara) masih menghadapi berbagai keterbatasan. Minimnya fasilitas khusus membuat proses karantina belum berjalan optimal, terutama saat menghadapi lonjakan kebutuhan hewan kurban menjelang Iduladha.
Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Kaltara pun mendorong pembangunan Instalasi Karantina Hewan (IKH) terpadu di Tarakan, Nunukan, dan Sebatik sebagai solusi jangka panjang.
Kepala Karantina Kaltara, Ichi Langlang Buana Machmud mengatakan, hingga saat ini pihaknya belum memiliki fasilitas karantina yang sesuai standar biosekuriti. “Selama ini penanganan ternak masih dilakukan di kandang penerima. Ini tentu belum ideal untuk pengawasan,” ujarnya.
Kondisi tersebut memaksa petugas melakukan langkah darurat, seperti penyegelan kandang jika ditemukan indikasi penyakit pada ternak yang baru masuk.
“Kalau ada indikasi penyakit, kandang kami segel agar ternak tidak dipindahkan sebelum pemeriksaan selesai,” jelasnya.
Namun, metode ini dinilai memiliki keterbatasan karena tidak didukung fasilitas isolasi khusus. Padahal, ternak berisiko tinggi seharusnya ditangani di lokasi terkontrol untuk mencegah penyebaran penyakit.
Selain itu, sistem pengawasan juga belum sepenuhnya terintegrasi secara digital. Meski begitu, ke depan Karantina Kaltara berencana mengintegrasikan pengawasan melalui platform Best Trust untuk memantau pergerakan ternak secara lebih akurat.
“Dengan sistem terintegrasi, pengawasan akan lebih efektif dan cepat dalam pengambilan keputusan,” katanya.
Saat ini, rencana pembangunan IKH masih dalam tahap pengajuan anggaran ke pemerintah pusat. Jika terealisasi, fasilitas ini akan menjadi pusat pemeriksaan, pengasingan, hingga penanganan ternak secara menyeluruh.
“Kalau fasilitasnya sudah ada, pengawasan akan jauh lebih maksimal dan risiko penyebaran penyakit bisa ditekan,” pungkasnya. (zar/jnr)
Editor : Januriansyah RT