TARAKAN - Harapan peternak sapi untuk merasakan keberpihakan kebijakan di tengah meningkatnya kebutuhan hewan kurban kembali dikeluhkan, ketika berbagai persoalan lama seperti minimnya bantuan pemerintah, keterbatasan fasilitas dasar hingga beban pajak yang dinilai tidak tepat sasaran masih terus membayangi aktivitas mereka di lapangan dan membuat usaha berjalan tanpa dukungan yang memadai dalam jangka panjang.
Seorang pedagang sekaligus peternak sapi Suginto mengungkapkan, dalam beberapa tahun terakhir dirinya tidak lagi merasakan adanya perhatian nyata dari pemerintah terhadap pengembangan usaha peternakan, khususnya dalam mendukung pemeliharaan sapi dalam skala besar yang membutuhkan biaya tinggi dan kesinambungan usaha.
“Selama dua tahun ini tidak pernah menyiapkan sapi besar, dulu mungkin ada, tapi sekarang tidak ada lagi. Susah sekarang kalau mau pelihara besar-besar, karena tidak ada dorongan dari pemerintah seperti dulu.” ujarnya, Jumat (1/5).
Kondisi tersebut menurutnya semakin terasa timpang jika dibandingkan dengan daerah lain, di mana dinilai lebih serius dalam mendukung peternak melalui berbagai program dan fasilitas yang memadai, baik dari sisi infrastruktur maupun bantuan langsung.
“Kalau di Jawa itu petani yang sudah tulen itu sudah dikasih bantuan. Jangan kan timbangan, jalannya saja dicor, kandangnya dikasih, dari peternakan ada semua. Kalau di sini mana ada. Ditanya ya jawabannya tidak ada anggarannya, padahal itu penting untuk kami yang betul-betul pelihara sapi dari kecil.” jelasnya.
Di sisi lain, kebijakan pajak juga menjadi persoalan yang dinilai cukup memberatkan bagi peternak kecil, karena dalam praktiknya tidak ada perbedaan perlakuan antara peternak yang memelihara ternak dengan pedagang yang hanya melakukan jual beli.
“Untuk apa sebetulnya, kan pajak apa. Tidak ikut ngarit, tidak ikut apa, orang kecil digituin saja. Kemarin itu waktu itu 85 saja, pajaknya Rp 2 juta. Lumayan, itu uang gaji anak buah cari rumput itu. Harusnya itu bisa dipakai untuk kebutuhan ternak, tapi habis di situ.” katanya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT