Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Mengapa Perlu Dorong Ekspor Langsung Komoditi Kaltara? Ini Penjelasan Akademisi UBT

Zakaria RT • Kamis, 30 April 2026 | 19:03 WIB
LAYAK : Pelabuhan Malundung salah satu pelabuhan yang menjadi situs penting jika dibukanya jalur ekspor-impor. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
LAYAK : Pelabuhan Malundung salah satu pelabuhan yang menjadi situs penting jika dibukanya jalur ekspor-impor. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN - Adanya gagasan membuka jalur langsung ekspor-impor dari Kota Tarakan kembali mengemuka sebagai kebutuhan yang tidak lagi bisa ditunda, melainkan harus segera diposisikan sebagai agenda strategis daerah dalam jangka panjang.

Di tengah tingginya biaya logistik, ketergantungan pada pelabuhan di luar daerah, serta persaingan pasar global yang semakin ketat, posisi Tarakan dinilai belum sepenuhnya memberikan keuntungan bagi komoditas lokal. Kondisi ini membuat potensi besar yang dimiliki Kaltara seolah belum terkonversi menjadi kekuatan ekonomi riil yang mampu bersaing di pasar internasional secara langsung.

Akademisi Ekonomi dari Universitas Borneo Tarakan (UBT), Dr Margiyono S.E., M.Si, mengatakan, selama ini komoditas asal Kaltara, termasuk Tarakan, kerap kehilangan identitas ketika masuk pasar global. Proses ekspor yang masih bergantung pada pelabuhan besar seperti Makassar dan Surabaya membuat asal-usul komoditas menjadi bias dalam pencatatan perdagangan internasional. Dalam jangka panjang, kondisi ini bukan hanya soal administratif, tetapi juga menyangkut positioning daerah dalam rantai perdagangan dunia.

“Ketika dipasarkan ke pasar global, itu tidak lagi menjadi milik Tarakan. Bisa saja tercatat sebagai komoditas Makassar karena lewat pelabuhan di sana atau tercatat di pelabuhan lain. Kalau kondisi ini terus berlangsung tanpa solusi, maka daya saing komoditas Tarakan akan menurun,” ujarnya, Kamis (30/4).

Ia menjelaskan, persoalan utama tidak berhenti pada aspek pencatatan semata, tetapi lebih dalam menyentuh struktur biaya yang harus ditanggung pelaku usaha. Rantai distribusi yang panjang dari Tarakan ke kota transit seperti Makassar atau Surabaya menciptakan lapisan biaya tambahan yang pada akhirnya membebani harga jual produk di pasar internasional. Dalam konteks perdagangan global yang sensitif terhadap harga, kondisi ini menjadi faktor yang sangat menentukan.

“Kalau komoditas itu langsung berasal dari Kaltara dan punya jalur sendiri, nilai jualnya bisa lebih murah. Kenapa? Karena tidak ada tambahan biaya dari Tarakan ke Makassar atau ke Surabaya. Biaya-biaya ini yang akhirnya membuat harga jadi lebih mahal di pasar global,” jelasnya.

Menurut Margiyono, kenaikan harga akibat rantai distribusi yang berlapis tidak hanya berdampak pada margin keuntungan pelaku usaha, tetapi juga secara langsung memengaruhi minat importir di luar negeri. Dalam kondisi persaingan global yang ketat, selisih harga yang kecil sekalipun bisa menjadi faktor penentu dalam pengambilan keputusan bisnis oleh importir.

“Ketika harga menjadi lebih mahal, tentu minat importir dari luar negeri akan berkurang. Ini berdampak langsung pada daya saing, dan ujungnya keuntungan pengusaha juga ikut menurun. Kalau ini terus terjadi, maka kita akan kalah bersaing dengan daerah atau negara lain yang lebih efisien,” tegasnya.

Padahal, kata dia, secara geografis Kaltara memiliki posisi yang sangat strategis dan seharusnya menjadi keunggulan utama dalam perdagangan internasional. Letaknya yang berada di jalur laut internasional menjadikan wilayah ini lebih dekat dengan berbagai negara tujuan ekspor di kawasan Asia Pasifik dibanding harus memutar melalui wilayah lain di Indonesia.

“Kalau kita lihat posisi geografis, Kaltara itu berada di jalur strategis menuju Pasifik, ke Filipina, Korea, Jepang bahkan China. Jaraknya lebih dekat dibanding harus ke Surabaya dulu. Ini sebenarnya keunggulan yang sangat besar, tetapi belum dimanfaatkan secara maksimal,” katanya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
#tarakan #kaltara #ubt #akademisi #ekspor