TARAKAN – Harapan menjadikan Tarakan sebagai pintu ekspor langsung ke pasar internasional mulai menemukan momentumnya. Di tengah dorongan pemerintah untuk memangkas ketergantungan terhadap jalur distribusi luar daerah, peluang ekspor langsung ke negara tujuan seperti China dan Hongkong dinilai semakin terbuka lebar.
Skema ini bukan hanya menjanjikan efisiensi rantai pasok, tetapi juga diyakini mampu meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan daerah, khususnya sektor perikanan yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi pesisir.
Namun di balik peluang tersebut, masih tersisa pekerjaan rumah besar yang belum terselesaikan, yakni persoalan tingginya biaya logistik yang membuat daya saing ekspor langsung dari Tarakan belum optimal.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kalimantan Utara, Peter Setiawan mengatakan, dorongan pemerintah untuk mempercepat ekspor langsung patut diapresiasi. Menurutnya, langkah tersebut menjadi momentum penting agar pelaku usaha di daerah tidak terus bergantung pada jalur distribusi melalui daerah lain.
“Kalau saya tentu apresiasi, karena memang kita harus ekspor langsung. Kenapa kita tidak seperti Batam atau daerah lain? Harusnya kita bisa, supaya nilai tambahnya tinggal di Tarakan dan hasil laut kita lebih menguntungkan nelayan,” ujarnya, Rabu (29/4).
Ia menjelaskan, selama ini komoditas unggulan Kalimantan Utara, khususnya hasil laut seperti udang dan ikan, banyak diekspor melalui negara tetangga, Malaysia. Kondisi ini tidak lepas dari kebijakan masa lalu yang berdampak pada pergeseran jalur distribusi dan basis operasional pelaku usaha.
“Dulu pengusaha China banyak buka kantor di Tawau. Dari sana mereka ekspor ke Kuala Lumpur, lalu ke China. Akibatnya, produk kita dikenal dari Tawau, bukan dari Tarakan,” urainya.
Menurutnya, jika ekspor langsung dari Tarakan ke kota-kota besar di China seperti Shanghai dapat berjalan optimal, hal ini akan membuka peluang besar bagi masuknya investasi asing ke Kalimantan Utara.
“Kalau kita bisa ekspor langsung, otomatis investor China akan datang ke Tarakan. Ini peluang besar,” katanya.
Meski demikian, ia menekankan ada persoalan mendasar yang harus segera dibenahi, yakni disparitas biaya logistik yang dinilai terlalu tinggi. Saat ini, biaya pengiriman kontainer langsung dari Tarakan ke China bisa mencapai sekitar Rp 150 juta.
Lanjutnya, sebagai perbandingan, jika pengiriman dilakukan melalui Surabaya, biaya dari Surabaya ke China hanya berkisar Rp 50 juta per kontainer. Selisih biaya yang cukup jauh ini dinilai membuat ekspor langsung dari Tarakan belum kompetitif di pasar global.
“Ini yang harus jadi perhatian serius. Kalau biaya logistik tidak ditekan, pelaku usaha akan tetap memilih jalur lama karena lebih murah,” pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT