TARAKAN – Pengembangan ekspor langsung dari Kalimantan Utara melalui jalur udara masih menghadapi tantangan serius, terutama terkait keterisian muatan dan kepastian biaya logistik.
Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kalimantan Utara (Kaltara) , Ichi Langlang Buana Machmud mengungkapkan, penerbangan kargo rute Tarakan–Hong Kong yang terhubung ke sejumlah kota di China telah dilakukan dua kali, namun masih dalam tahap uji coba.
“Sudah dua kali penerbangan, tapi muatannya masih kosong. Ini masih melihat potensi pasar dan distribusi,” ujarnya.
Padahal, secara geografis Kalimantan Utara dinilai memiliki keunggulan karena lebih dekat dengan kawasan Asia Timur seperti Jepang dan Korea Selatan. Kondisi ini seharusnya membuat jalur logistik lebih efisien dibanding harus melalui kota besar seperti Jakarta atau Surabaya.
Namun, faktor biaya logistik yang belum pasti menjadi kendala utama. Selain itu, keterisian muatan yang belum stabil membuat rute ini belum layak secara bisnis untuk dijalankan secara berkelanjutan.
“Yang paling penting itu harga logistik harus jelas dan kompetitif, serta muatan harus terisi. Kalau tidak, tentu tidak bisa berjalan,” tegasnya.
Selain jalur udara, pemerintah juga mulai melirik optimalisasi jalur laut. Salah satu potensinya adalah memanfaatkan kapal kargo yang selama ini kembali ke negara tujuan dalam kondisi kosong.
“Ini peluang yang sedang kita dorong agar bisa dimanfaatkan, supaya biaya logistik bisa lebih efisien,” katanya.
Ia menilai, jika persoalan logistik dapat diatasi, ekspor langsung dari Kalimantan Utara berpotensi memberikan dampak ekonomi besar, terutama bagi pelaku usaha sektor perikanan dan komoditas unggulan daerah.
“Kalau distribusi lebih singkat, nilai tambah akan langsung dirasakan oleh pelaku usaha di daerah,” pungkasnya. (zar/jnr)
Editor : Januriansyah RT