TARAKAN – Setelah melalui proses panjang, kini Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Tarakan resmi melepas 186 Calon Jemaah Haji (CJH) sebelum diberangkatkan pada 4 Mei 2026 mendatang. Pelepasan tersebut merupakan rangkaian wajib pra sebelum CJH benar-benar melakukan perjalanan. Sehingga para CJH cukup antusias dan tidak sabar untuk segera memulai perjalanan haji di tahun ini.
Saat dikonfirmasi, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Tarakan, Asmawan menjelaskan, keputusan memberangkatkan jemaah lebih awal ke Embarkasi Balikpapan pada 4 Mei bukan tanpa alasan, melainkan sebagai upaya mitigasi risiko keterlambatan sekaligus menjaga kondisi fisik jemaah tetap stabil sebelum penerbangan internasional.
“Jemaah kita masuk Kloter 7 Balikpapan. Jadwal resmi masuk Asrama Haji Balikpapan itu tanggal 5 Mei pukul 09.25 Wita dan keberangkatan ke Madinah pada 6 Mei pukul 09.25 Wita. Namun kita mengambil langkah berangkat dari Tarakan tanggal 4 Mei supaya tidak ada risiko keterlambatan dan jemaah memiliki waktu cukup untuk beristirahat sebelum penerbangan panjang,” ujar Asmawan, Selasa (28/4).
Ia menekankan, waktu jeda selama dua hari di Asrama Haji Balikpapan menjadi fase krusial yang tidak bisa diabaikan. Selain untuk pemulihan stamina setelah perjalanan domestik, masa ini juga digunakan untuk memastikan seluruh jemaah dalam kondisi layak terbang melalui serangkaian pemeriksaan kesehatan yang cukup ketat.
“Kalau kita memaksakan berangkat tanggal 5 Mei, maka jemaah akan langsung masuk asrama tanpa jeda istirahat yang cukup. Ini berpotensi menyebabkan kelelahan, bahkan bisa memicu gangguan kesehatan seperti tekanan darah tinggi atau kondisi fisik drop. Kita tidak ingin itu terjadi, jadi langkah percepatan ini adalah bentuk perlindungan terhadap jemaah,” jelasnya.
Dalam pelaksanaan teknis, keberangkatan CJH Tarakan akan dibagi ke dalam dua gelombang penerbangan pada 4 Mei 2026. Sebanyak 102 jemaah akan diberangkatkan lebih awal pada pukul 10.30 Wita, sementara 84 jemaah lainnya dijadwalkan menyusul pada pukul 15.30 Wita di hari yang sama.
Menurutnya, pembagian ini merupakan konsekuensi dari keterbatasan kapasitas pesawat komersial yang digunakan. Karena tidak menggunakan penerbangan khusus haji dari Tarakan, seluruh jemaah harus menyesuaikan dengan sistem penerbangan reguler yang bercampur dengan penumpang umum.
“Karena ini menggunakan penerbangan reguler, kita tidak punya opsi untuk mengangkut seluruh jemaah dalam satu kali penerbangan. Jadi harus dibagi dalam beberapa kloter kecil agar tetap sesuai kapasitas pesawat, sekaligus memastikan kenyamanan dan keselamatan selama perjalanan,” katanya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT