TARAKAN – Selain minimnya jumlah peserta didik, pelaksanaan Program Sekolah Rakyat di Kota Tarakan juga menghadapi tantangan dari sisi psikologis. Sistem asrama yang diterapkan dinilai belum sepenuhnya diterima oleh anak maupun orang tua.
Kepala Dinas Sosial Tarakan, Arbain mengungkapkan, kendala utama justru bukan pada fasilitas, melainkan kesiapan mental siswa, terutama di jenjang SD kelas awal. “Anak-anak masih sulit berpisah dengan orang tua. Begitu juga orang tua yang belum tentu siap melepas anaknya tinggal di asrama,” ujarnya.
Padahal, seluruh kebutuhan siswa dalam program tersebut telah ditanggung pemerintah, mulai dari tempat tinggal, konsumsi harian, hingga perlengkapan sekolah. Bahkan, pengawasan dilakukan secara penuh selama 24 jam oleh pendamping.
Namun demikian, faktor emosional tetap menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan keluarga. “Kendala ini lebih ke psikologis, bukan fasilitas. Dari sisi sarana dan prasarana sebenarnya sudah siap,” jelasnya.
Meski di awal banyak siswa mengalami kesulitan beradaptasi, kondisi tersebut mulai berangsur membaik. Anak-anak yang telah bergabung kini mulai terbiasa dengan lingkungan asrama dan pola kegiatan yang terstruktur.
Berbagai aktivitas tambahan seperti pembinaan karakter dan kegiatan keagamaan turut membantu proses adaptasi siswa. “Sekarang mereka sudah mulai tertib, aktivitasnya juga semakin banyak. Keluhan di awal sudah mulai berkurang,” katanya.
Saat ini, kegiatan belajar masih dilaksanakan di gedung Balai Latihan Kerja Kampung Enam. Pemerintah pun terus melakukan pendekatan kepada masyarakat untuk meningkatkan kepercayaan terhadap program Sekolah Rakyat.
Ke depan, diharapkan jumlah peserta didik dapat terus bertambah seiring meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap manfaat program tersebut, khususnya dalam memberikan akses pendidikan bagi keluarga kurang mampu. (zar/jnr)
Editor : Januriansyah RT