TARAKAN – Isu dugaan flu burung yang beredar liar di media sosial tak hanya memicu keresahan publik, tetapi juga mulai mengguncang aktivitas ekonomi pedagang kecil di pasar tradisional. Di tengah situasi yang belum sepenuhnya jelas, Dinas Kesehatan (Dinkes) Tarakan justru tengah disibukkan dengan penyelidikan internal untuk membongkar sumber kebocoran informasi yang memicu kepanikan tersebut.
Langkah ini diambil setelah beredarnya informasi yang diduga berasal dari data kesehatan, yang sejatinya bersifat sensitif dan tidak untuk konsumsi publik tanpa penjelasan utuh. Dugaan sementara mengarah pada oknum di lingkungan puskesmas, meski hingga kini belum masuk ke ranah hukum.
Kepala Dinkes Tarakan, dr Devi Ika Indriarti menegaskan, pihaknya tidak akan mentolerir penyebaran informasi yang belum terverifikasi, apalagi jika berpotensi menimbulkan dampak luas di masyarakat.
“Jangan sembarangan menyebar informasi yang konteksnya belum jelas. Data kesehatan itu sensitif dan harus dipahami secara utuh. Jika keresahan ini meluas dan berdampak fatal, tentu ada konsekuensi hukum yang menanti bagi pihak yang menyebarkannya,” tegasnya, Kamis (23/4)
Selain investigasi, Dinkes juga mulai memperkuat langkah edukasi langsung ke masyarakat melalui puskesmas. Fokusnya pada pemahaman memilih daging ayam yang sehat, pengolahan yang aman, serta pentingnya menjaga kebersihan sebagai benteng utama pencegahan penyakit.
“Kami akan memperkuat edukasi langsung kepada masyarakat melalui puskesmas, terutama terkait cara memilih daging ayam yang sehat, proses pengolahan yang aman, serta pentingnya menjaga kebersihan sebagai langkah utama pencegahan penyakit,” pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT