Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Harga Elpiji Non Subsidi di Tarakan 'Meroket', Ini Kenaikan Harganya

Zakaria RT • Kamis, 23 April 2026 | 15:06 WIB
HARGA MEROKET: Kondisi stok elpiji di agen Tarakan. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
HARGA MEROKET: Kondisi stok elpiji di agen Tarakan. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN - Setelah sekian lama dalam kondisi stabil, kini harga elpiji non subsidi dilaporkan mengalami kenaikan. Meski penyebabnya belum diketahui secara pasti, namun kondisi tersebut terjadi secara nasional yang juga berdampak seluruh daerah.

Alhasil, sejumlah pangkalan di Kota Tarakan mengakui sulit menjual elpiji. Diketahui, Setelah Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Dexlite, kini tabung elpiji non subsidi ukuran 5,5 kilogram dan 12 kilogram Bright Gas ikut mengalami kenaikan harga.

Saat dikonfirmasi, salah satu pemilik pangkalan elpiji di Karang Anyar Yudin menerangkan, harga elpiji non subsidi 5,5 kilogram mengalami kenaikan hingga menyentuh Rp 130 ribu per tabung. Sementara untuk elpiji 12 kilogram Bright Gas, kini dijual di kisaran Rp 280 ribuan per tabung, naik dari harga sebelumnya yang berada di angka Rp 250 ribu.

“Biasanya kita jual elpiji 12 kg itu Rp 250 ribu, sekarang sudah Rp 280 ribu. Jadi ada kenaikan sekitar Rp 30 ribu. Kalau harga pengambilan dari agen sudah berada di kisaran Rp 265 ribuan per tabung. Terus di pangkalan beda-beda harga jualnya karena ini non subsidi,” ujarnya, Kamis (23/4).

Ia mengakui, sejak harga mengalami kenaikan, pergerakan penjualan justru mengalami penurunan signifikan. Lanjutnya, saat ini pembeli didominasi oleh pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang tetap membutuhkan elpiji untuk operasional usaha mereka, sementara konsumen rumah tangga mulai mengurangi pembelian.

“Pembeli jadi sepi. Biasanya masih ramai, sekarang lebih banyak dari pelaku UMKM saja yang beli. Saya dapat info sesama teman pangkalan, stok lama diborong, jual pakai harga lama juga. Kalau saya tidak karena sudah kosong, jadi ini barang baru datang, belinya di agen harga setelah naik,” ungkapnya.

Lanjutnya, ia mengkhawatirkan adanya potensi peralihan konsumsi masyarakat ke elpiji subsidi 3 kilogram, jika harga non subsidi terus mengalami kenaikan. Padahal, distribusi elpiji subsidi telah diatur dengan ketat dan memiliki batasan penerima. Ia menjelaskan, pangkalannya melayani sejumlah wilayah seperti RT 21, RT 12, RT 20, RT 30, hingga sebagian RT 1, RT 2, dan RT 27. Untuk pelaku UMKM sendiri, pihaknya membatasi pembelian maksimal dua tabung setiap kali distribusi datang.

“Untuk UMKM kita kasih dua tabung sekali datang. Sebulan bisa dua sampai tiga kali datang tabungnya. Karena ada instruksi pemerintah, kadang-kadang kita tidak bisa bantah. Dulu sempat sampai Rp 135 ribu harga jual, kemudian turun drastis,” jelasnya.

Meski demikian, ia menilai kenaikan harga elpiji non subsidi tidak serta merta menghentikan konsumsi, karena kebutuhan energi rumah tangga tetap harus dipenuhi. Namun, dampaknya tetap terasa pada penurunan intensitas pembelian.

“Kalau pembeli tetap ada cuma tidak seperti sebelum kenaikan. Misalnya sehari bisa terjual 10 sampai 15 tabung setelah naik cuma 5 saja yang terjual. Itu pun pembelinya pelaku UMKM. Saya khawatir juga pelanggan saya yang untuk keperluan rumah tangga beralih menggunakan gas 3 kilogram," tuturnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
#elpiji non subsidi #tabung melon #tarakan #elpiji #lpg