TARAKAN – Pemasukan sapi ke Tarakan terus berlangsung secara bertahap menjelang kebutuhan hari raya Idul Adha, dengan total rencana mencapai sekitar 1.500 ekor. Hingga saat ini, sekitar 700 ekor sapi telah tiba dan menjalani proses karantina serta pemeriksaan kesehatan.
Paramedik Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Kalimantan Utara, Bambang Suryono Nadi mengatakan, sapi-sapi tersebut didatangkan dari Gorontalo oleh sekitar 45 pemilik atau pengumpul.
“Ini sebenarnya pengumpul saja, nanti akan dijual lagi ke peternak atau masyarakat,” ujarnya.
Jenis sapi yang masuk pun beragam, mulai dari peranakan Bali, Peranakan Ongole (PO), hingga Limosin. Sebagai bagian dari pengawasan, setiap sapi dipasangi penanda khusus berupa ear tag berbarcode. Sistem ini memungkinkan identifikasi cepat terkait asal, lokasi, hingga kepemilikan ternak.
“Kalau ada masalah, tinggal scan barcode, langsung ketahuan ini sapi dari mana, milik siapa, dan berada di lokasi mana,” jelas Bambang.
Selain itu, terdapat perbedaan penanda antara vaksinasi dan pemeriksaan karantina. Tag hijau menandakan vaksinasi dari dinas peternakan, sedangkan tag kuning digunakan oleh karantina untuk kepentingan pengujian penyakit.
Dalam prosesnya, BKHIT juga melakukan pengambilan sampel secara acak berdasarkan kondisi fisik sapi. Pemeriksaan difokuskan pada penyakit seperti Penyakit Mulut dan Kuku, Brucellosis, dan parasit darah.
“Kalau secara fisik terlihat ada gejala, itu yang kita prioritaskan untuk diperiksa lebih lanjut,” katanya.
Bambang menambahkan, pengawasan akan terus dilakukan pada setiap kedatangan berikutnya. Jadwal pemasukan sapi selanjutnya diperkirakan tiba dalam waktu dekat dan akan kembali menjalani prosedur yang sama. “Nanti ada pengiriman lagi, kita lakukan sampling lagi. Itu rutin,” ujarnya.
Ia juga memastikan bahwa jika ditemukan sapi yang sakit, penanganan akan dilakukan tanpa biaya. “Pengobatan ada dan gratis,” tegasnya.
Dengan sistem pengawasan berlapis, termasuk penggunaan teknologi barcode, BKHIT Kaltara memastikan distribusi sapi di Tarakan tetap aman, terkontrol, dan mudah ditelusuri jika terjadi permasalahan. (zar/jnr)
Editor : Januriansyah RT