TARAKAN - Asrama Haji Grand El Hajj di kawasan Sport Center Kampung Empat kini tidak lagi hanya identik dengan musim pemberangkatan jemaah. Fasilitas tersebut mulai dibuka untuk umum, menawarkan layanan penginapan hingga ruang pertemuan berkapasitas besar yang dapat dimanfaatkan masyarakat maupun instansi.
Saat dikonfirmasi, Kasubag Tata Usaha (TU) Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Asmad menjelaskan, selain sebagai tempat singgah jemaah, Grand El Hajj juga dilengkapi fasilitas ruang pertemuan yang mampu menampung 30 hingga 200 orang. Fasilitas ini dinilai cukup representatif untuk berbagai kegiatan seperti rapat, pelatihan, seminar, hingga agenda organisasi berskala menengah dan besar.
“Kalau kegiatan besar, biasanya mereka kesulitan cari tempat yang benar-benar luas dan representatif. Di sini kita punya keunggulan itu, mulai area luas, parkir juga memadai dan ruangannya bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Itu yang jadi daya tarik tersendiri dibandingkan tempat lain,” katanya, Kamis (16/4).
Ia mengungkapkan, selama ini sudah cukup banyak instansi pemerintah maupun organisasi yang memanfaatkan fasilitas tersebut. Lingkungan yang relatif kondusif serta dukungan sarana yang memadai menjadi nilai lebih bagi Grand El Hajj di tengah keterbatasan pilihan lokasi kegiatan di Tarakan.
Meski demikian, pengelolaan asrama masih menghadapi sejumlah kendala, terutama dari sisi sumber daya manusia (SDM). Hal ini terjadi akibat perubahan struktur kelembagaan, di mana pengelolaan tidak lagi berada di bawah Kementerian Agama, namun belum sepenuhnya memiliki manajemen yang berdiri sendiri.
“SDM kita memang masih terbatas. Jadi pengelolaannya sekarang dilakukan secara bergantian, menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Ini tentu belum ideal, tapi tetap kita jalankan sambil menunggu penataan yang lebih jelas ke depan. Yang penting layanan tetap berjalan,” ungkapnya.
Ke depan, pengelolaan asrama haji direncanakan akan dialihkan ke pemerintah provinsi sebagai bagian dari penataan kelembagaan yang masih berproses. Dengan pengelolaan yang lebih terstruktur, diharapkan operasional dapat berjalan lebih optimal, baik dari sisi pelayanan maupun pengembangan fasilitas.
Asmad berharap, dengan dibukanya akses untuk umum, asrama haji tidak lagi dipandang sebagai fasilitas eksklusif yang hanya digunakan saat musim tertentu, melainkan menjadi aset publik yang aktif sepanjang tahun.
“Harapannya tentu fasilitas ini bisa terus hidup, tidak hanya ramai saat musim haji saja. Kita ingin masyarakat juga merasa memiliki, bisa memanfaatkan, dan pada akhirnya aset ini benar-benar memberikan manfaat yang luas, baik secara sosial maupun ekonomi,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa masyarakat tetap dapat melakukan pemesanan, baik untuk menginap maupun kegiatan, selama tidak berbenturan dengan agenda utama pemberangkatan jemaah haji yang menjadi prioritas penggunaan asrama.
“Silakan dimanfaatkan oleh masyarakat, selama tidak bersamaan dengan musim pemberangkatan haji. Justru kita terbuka, karena semakin banyak yang menggunakan, semakin terasa manfaat dari fasilitas ini. Itu yang kita harapkan ke depan,” pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT