TARAKAN — Skema distribusi pangan melalui jaringan mitra Bulog di Tarakan menunjukkan pergerakan yang stabil untuk komoditas utama seperti beras dan minyak goreng, namun untuk komoditas gula justru kurang diminati. Di tengah upaya menjaga keterjangkauan harga, masuknya gula impor disebut ikut memengaruhi minat pasar lokal.
Saat dikonfirmasi, Kepala Perum Bulog Cabang Tarakan, Zamahsyari Afsolin mengungkapkan, pola pengambilan komoditas oleh mitra berjalan rutin dengan volume yang cukup besar dalam setiap transaksi. Kendati demikian, ia mengakui dari semua tiga pangan yang disediakan Bulog Tarakan, hanya komoditi gula yang diakui sulit terjual. Ia menduga hal tersebut lantaran maraknya gula impor yang eksis di daerah.
“Memang untuk komoditi gula ini agak susah terjual. Biasanya yang membeli rata-rata untuk KKMP itu sekali pengambilan untuk beras mencapai 2 ton SPHP. Kemudian untuk minyak goreng sekitar 20 sampai 30 dus dalam satu kali order. Biasanya mereka melakukan pemesanan itu seminggu sekali, jadi pergerakannya cukup aktif,” ujarnya, Sabtu (11/4).
Ia menjelaskan, sistem distribusi yang diterapkan Bulog tetap mengacu pada ketentuan harga eceran tertinggi (HET) yang menjadi batas atas penjualan ke konsumen. Aturan ini berlaku untuk seluruh jaringan mitra, baik itu Rumah Pangan Kita (RPK), pasar tradisional, maupun Kelompok operasi Kelurahan Merah Putih (KKMP)
“Memang setiap mitra sudah ditetapkan acuan harga. Jadi yang HET itu menjadi pedoman untuk penjualan ke konsumen akhir. Meskipun barang diambil dari mitra seperti RPK, pasar, atau KKMP, mereka tetap harus mengikuti ketentuan tersebut agar harga di tingkat masyarakat tetap terkendali,” jelasnya.
Menurut Zamahsyari, kepatuhan terhadap HET menjadi kunci dalam menjaga stabilitas harga di pasar, terutama di tengah fluktuasi harga pangan secara nasional. Dengan mekanisme tersebut, Bulog berupaya memastikan bahwa masyarakat tetap bisa mengakses kebutuhan pokok dengan harga yang wajar.
Namun ia mengakui, di tengah kelancaran distribusi beras dan minyak goreng, tantangan justru muncul pada komoditas gula. Meski telah disalurkan melalui jaringan yang sama, tingkat permintaan gula dinilai masih rendah dibandingkan dua komoditas lainnya.
“Sekarang memang sudah ada tiga komoditas yang disalurkan, termasuk gula. Tapi kalau kita lihat di lapangan, gula ini kurang menarik minat mitra untuk diambil. Perputarannya tidak secepat beras dan minyak,” ungkapnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT