TARAKAN — Ancaman kebakaran masih menjadi persoalan yang terus membayangi Kota Tarakan pada awal tahun 2026. Dalam tiga bulan pertama saja, puluhan insiden kebakaran tercatat terjadi di Bumi Paguntaka (Julukan Kota Tarakan). Kejadian kebakaran didominasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berpotensi meluas jika tidak segera ditangani.
Saat dikonfirmasi, Kepala Seksi Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Satpol PP dan PMK Tarakan, Irwan, S.E., mengungkapkan, berdasarkan data rekapitulasi penanganan kejadian, sepanjang Januari hingga Awal April 2026 terdapat 23 kejadian kebakaran yang ditangani petugas Pemadam Kebakaran (PMK) Tarakan.
“Kalau kami lihat dari data rekapitulasi penanganan kejadian sejak Januari sampai Maret 2026 total 21 tapi di awal April kemarin ada tambahan 2 kejadian yakni di Kampung Bugis dan Pantai Amal sehingga total hingga awal April menjadi 23 kejadian kebakaran," ujarnya, Jumat (10/4).
Ia menjelaskan, Januari menjadi bulan dengan jumlah kejadian kebakaran tertinggi, yakni 9 kejadian. Dari jumlah tersebut 3 di antaranya merupakan kebakaran rumah atau bangunan, kemudian empat kejadian karhutla, sementara dua kejadian lainnya masuk kategori lain yang juga memerlukan penanganan petugas.
"Di Februari, jumlah kejadian kebakaran terjadi penurunan cukup signifikan yang tercatat empat kejadian kebakaran. Dari jumlah itu tiga di antaranya merupakan kebakaran lahan, sedangkan satu kejadian lainnya masuk kategori lain. Pada bulan ini tidak ada kebakaran bangunan yang tercatat,” katanya.
Lanjutnya, memasuki Maret angka kejadian kembali meningkat menjadi 8 kasus. Sebagian besar kejadian pada bulan tersebut kembali didominasi kebakaran lahan. 7 diantaranya merupakan karhutla. Kemudian pada awal April terjadi 2 kasus kebakaran yakni di Pantai Amal dan Kelurahan Karang Anyar.
"Jadi kalau dilihat dari data yang ada, karhutla memang masih mendominasi kejadian kebakaran di Tarakan. Selain kejadian kebakaran, petugas kami juga menangani berbagai operasi penyelamatan dan kondisi darurat non-kebakaran. Dalam banyak kasus, masyarakat masih menganggap tugas pemadam hanya sebatas memadamkan api," urainya.
Ia mengingatkan masyarakat, agar lebih berhati-hati dalam melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama saat membuka atau membersihkan lahan. Mengingat kata dia, sebagian besar karhutla terjadi karena aktivitas manusia, bukan dari faktor alam.
“Pencegahan itu jauh lebih penting, karena kalau kebakaran sudah terjadi tentu dampaknya bisa lebih luas dan membutuhkan penanganan yang tidak sedikit,” pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT