TARAKAN – Penanganan kawasan rawan longsor di Kota Tarakan masih menghadapi tantangan besar. Selain keterbatasan penanganan darurat, upaya relokasi warga dari wilayah berisiko tinggi juga tidak mudah dilakukan.
Kepala Pelaksana BPBD Tarakan, Yonsep mengakui, hingga saat ini penanganan yang dilakukan pihaknya masih fokus pada tahap kedaruratan, seperti pemberian bantuan terpal dan karung untuk menahan longsoran tanah.
“BPBD hanya menangani tahap awal saat bencana terjadi. Untuk perbaikan permanen akan dilanjutkan oleh Dinas Perkim setelah asesmen lanjutan,” jelasnya.
Ia menyebut, rumah warga yang terdampak longsor di RT 05 Lingkas Ujung mengalami kerusakan sekitar 60 persen. Meski masih dinilai layak dihuni, lokasi yang berada di lereng bukit tetap berisiko tinggi.
Yonsep juga menyoroti persoalan relokasi warga di kawasan rawan longsor seperti Kampung Bugis, Sebengkok, hingga Gunung Lingkas. Menurutnya, faktor ekonomi dan keterikatan terhadap tempat tinggal menjadi kendala utama.
“Relokasi tidak semudah yang dibayangkan. Banyak warga yang tetap memilih tinggal karena faktor ekonomi dan sudah lama menetap di sana,” ungkapnya.
Sebagai langkah jangka panjang, BPBD terus menggencarkan sosialisasi mitigasi bencana melalui RT dan media sosial agar masyarakat lebih siap menghadapi potensi bencana.
Ia berharap, meskipun relokasi belum bisa dilakukan secara menyeluruh, kesadaran masyarakat terhadap risiko bencana dapat meningkat sehingga mampu meminimalisir dampak yang ditimbulkan.
“Yang paling penting jangan sampai ada korban jiwa. Itu yang terus kami tekankan,” pungkasnya. (zar/jnr)
Editor : Januriansyah RT