TARAKAN – Pelaksanaan Siaga SAR Khusus Lebaran di Tarakan berjalan relatif lancar. Namun, di balik itu, masih ditemukan catatan penting terkait keselamatan transportasi laut, khususnya kepatuhan terhadap peringatan cuaca.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Tarakan, Syahril menegaskan, sejumlah kecelakaan laut yang terjadi selama periode siaga diduga kuat akibat kelalaian pengguna jasa transportasi yang tetap memaksakan berlayar di tengah cuaca buruk.
“Keselamatan harus menjadi prioritas utama. Kalau ada peringatan cuaca dari BMKG, sebaiknya aktivitas pelayaran ditunda,” ujarnya, Selasa (7/4).
Ia menilai, sikap abai terhadap peringatan cuaca tidak hanya meningkatkan risiko kecelakaan, tetapi juga menyulitkan tim SAR dalam melakukan operasi pencarian dan pertolongan.
“Kalau peringatan diabaikan, pasti akan terjadi sesuatu. Ini juga berdampak pada proses pencarian karena kondisi di lapangan tidak mendukung,” tegasnya.
Selama masa siaga Lebaran, Kantor SAR Tarakan mencatat dua kejadian kecelakaan laut. Meski demikian, seluruh korban berhasil ditemukan, walaupun salah satu di antaranya ditemukan setelah masa operasi resmi berakhir.
“Secara keseluruhan hanya dua operasi, dan semua korban berhasil ditemukan,” katanya.
Syahril menambahkan, sesuai prosedur, operasi SAR dilakukan maksimal selama tujuh hari. Namun dalam kondisi tertentu, pencarian tetap dilakukan meski masa operasi telah ditutup. (zar/jnr)
Editor : Januriansyah RT