TARAKAN — Ketidakpastian awal Syawal kembali mengemuka di Tarakan setelah upaya pemantauan hilal tidak membuahkan hasil, dipengaruhi faktor cuaca berawan dan posisi geografis yang menyulitkan visibilitas bulan sabit. Kondisi ini membuat penetapan Hari Raya Idulfitri di Tarakan sepenuhnya bergantung pada hasil sidang isbat nasional yang mengompilasi laporan dari berbagai wilayah di Indonesia.
Wali Kota Tarakan, Khairul mengatakan, seluruh tim pemantau tidak berhasil melihat hilal saat rukyatul hilal dilaksanakan. Selain tertutup awan, posisi Tarakan yang berhadapan dengan daratan besar Kalimantan juga menjadi kendala tersendiri.
“Memang tidak bisa melihat hilal. Selain berawan, posisi Tarakan ini juga terhalang daratan Kalimantan, jadi tingkat kesulitannya cukup tinggi,” ujarnya, Kamis (19/3).
Ia menegaskan, hasil pemantauan dari Tarakan akan tetap dilaporkan sebagai bagian dari bahan pertimbangan sidang isbat yang digelar pemerintah pusat. Menurutnya, keputusan akhir tetap menunggu hasil kompilasi laporan dari seluruh Indonesia.
“Nanti kita tunggu saja keputusan pusat. Bisa saja di daerah lain seperti Aceh ada yang melihat, nanti itu yang jadi dasar penetapan,” katanya.
Khairul juga menyinggung potensi perbedaan penetapan Idulfitri, mengingat adanya perbedaan metode antara pemerintah dan organisasi masyarakat seperti Muhammadiyah. Namun, ia menilai perbedaan tersebut merupakan hal yang wajar.
“Kalau berbeda juga tidak masalah, karena metode yang digunakan memang berbeda. Muhammadiyah menggunakan hisab, sementara pemerintah menggunakan rukyat,” jelasnya.
Terkait pelaksanaan takbiran, Pemkot Tarakan cenderung tidak menggelar pawai keliling apabila keputusan Lebaran diumumkan pada malam hari. Hal ini mempertimbangkan kesiapan masyarakat yang dinilai belum optimal.
“Mungkin takbiran cukup di masjid saja. Kalau dipaksakan pawai malam ini, waktunya terlalu sempit dan persiapan belum maksimal,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Tarakan, Syopyan memastikan hasil rukyat di Tarakan akan segera dilaporkan ke Kementerian Agama RI melalui kantor wilayah.
“Di Tarakan tidak terlihat, salah satunya karena faktor awan yang menutupi ufuk saat pengamatan,” katanya.
Ia menjelaskan, secara astronomi posisi hilal di Tarakan juga masih berada di bawah kriteria imkan rukyat yang ditetapkan pemerintah bersama negara-negara anggota MABIMS.
“Ketinggian hilal di Tarakan sekitar 2 derajat dengan elongasi 5,1 derajat, masih di bawah standar 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Artinya secara kemungkinan pun memang sulit terlihat,” jelasnya.
Meski demikian, keputusan penetapan Idulfitri tetap akan ditentukan berdasarkan laporan nasional. Ia menyebut wilayah lain seperti Aceh memiliki peluang lebih besar untuk melihat hilal. Syopyan juga mengimbau masyarakat untuk menyikapi potensi perbedaan dengan bijak serta tetap menjaga kerukunan.
“Perbedaan ini sudah biasa, dan itu menjadi kekayaan dalam umat Islam. Yang penting kita jaga silaturahmi dan kerukunan,” pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT